Laporan Agrobisnis Manajement Produksi

www.skripsiutama.blogspot.com
Laporan Agrobisnis Manajement Produksi

Pendahuluan

Kata Manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.

Sejarah Perkembangan Ilmu Manajemen
Banyak kesulitan yang terjadi dalam melacak sejarah manajemen. Namun diketahui bahwa ilmu manajemen telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan adanya piramida di Mesir. Piramida tersebut dibangun oleh lebih dari 100.000 orang selama 20 tahun. Piramida Giza tak akan berhasil dibangun jika tidak ada seseorang—tanpa memedulikan apa sebutan untuk manajer ketika itu—yang merencanakan apa yang harus dilakukan, mengorganisir manusia serta bahan bakunya, memimpin dan mengarahkan para pekerja, dan menegakkan pengendalian tertentu guna menjamin bahwa segala sesuatunya dikerjakan sesuai rencana.


Manajemen Produksi

Manajemen produksi adalah salah satu cabang manajemen yang kegiatannya mengatur agar dapat menciptakan dan menambah kegunaan suatu barang dan jasa. Untuk mengatur kegiatan ini, perlu dibuat keputusan-keputusan yang berhubungan dengan usaha-usaha untuk mencapai tujuan agar barang dan jasa yang dihasilkan sesuai dengan apa yang direncanakan. Dengan demikian, manajemen produksi menyangkut pengambilan keputusan yang berhubungan dengan proses produksi untuk mencapai tujuan organisasi atau perusahaan.
Sistem Produksi
Sistem adalah sekumpulan bagian-bagian yang saling berhubungan dengan satu sama lain, dan bersama-sama beraksi menurut pola tertentu terhadap input dengan tujuan menghasilkan output. Sistem produksi yaitu sekumpulan sub-sistem yang terdiri dari pengambilan keputusan, kegiatan, pembatasan, pengendalian dan rencana yang memungkinkan berlangsungnya perubahan input menjadi output melalui proses produksi. Sedangkan sub-sistem yang terlibat dalam kegiatan produksi adalah: subsistem input, subsistem output, subsistem perencanaan dan subsistem pengendalian.

Tugas dari manajemen produksi ada dua yakni
1. Merancang system produksi
2. Mengoperasikan suatu system produksi untuk memenuhi persyaratan produksi yang  ditentukan.

Proses produksi meliputi :
1. Proses ekstraktif, contoh pertambangan batu bara, pertambangan timah.
2. Proses fabrikasi, contoh perusahaan mebel, perusahaan tas.
3. Proses analitik, contoh minyak bumi diproses menjadi bensin, solar dan kerosin.
4. Proses sintetik, contoh proses pembuatan obat, pengolahan baja.
5. Proses perakitan, contoh perusahaan televisi, perusahaan industry mobil dan motor.
6. Proses penciptaan jasa-jasa administrasi, contoh lembaga konsultasi dalam bidang administrasi keuangan.

Ruang lingkup manajemen produksi
1.       Pemilihan jenis usaha
2.      Pemilihan skala usaha
3.      Lokasi usaha
4.      Waktu produksi
5.      Pengaturan tenaga kerja


PEMILIHAN JENIS USAHA

Adalah penetapan kegiatan pokok usaha/ekonomi produktif yang dilakukan oleh seseorang/kelompok dalam bidang usaha ekonomi produktif.
Tujuannya : untuk mendapatkan jenis usaha yang tepat yang disesuaikan dengan kemampuan secara kelompok didasarkan permintaan pasar, modal, bahan baku yang tersedia, dll.
Langkah-langkah memilih jenis usaha
    Studi Kelayakan usaha : Suatu proses penelitian untuk mengetahui ada tidaknya suatu usaha (investasi) yang dapat dilaksanakan dengan berhasil.
  Ada 7 tahapan yang harus dipahami wirausaha:
a. mengenali diri sendiri,                   
b. mengenali lingkungan,                  
c. mengembangkan kreativitas,     
d. merencanakan usaha                          
e. menguji kelayakan usaha,
f. melaksanakan rencana tindakan,
g. mengantisipasi per-kembangan

b. Tujuan dilakukan studi kelayakan usaha: untuk menghindari keterlanjutan penanaman modal dalam kegiatan usaha yang ternyata tidak menguntungkan.

c. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam studi kelayakan usaha:
1)  Aspek pasar (permintaan, penawaran, harga, perkiraan penjualan)
2)  Aspek keuangan (dana investasi, sumber belanja, dan taksiran penghasilan)
3) Aspek teknis (skala produksi, proses produksi, pemilihan lokasi usaha, jadwal kerja, teknologi yang digunakan)
4)  Aspek manajemen (yang terkait dengan manajemen )
5)  Aspek hukum (bentuk badan usaha, jaminan (agunan), akta,sertifikat, ijin usaha, dsb.)
6) Aspek ekonomi dan sosial (peningkatan penghasilan negara,devisa negara, penambahan kesempatan kerja, pemerataan kesempatan kerja, pengaruh thdp. Industri lain)

 d. Alat analisis dalam studi kelayakan usaha
Untuk menganalisis aspek pasar dan pemasaran, maka bisa digunakan berbagai alat    untuk memprediksi permintaan produk yang akan dibuat.

e. Langkah-langkah studi kelayakan usaha:
1) Mengidentifikasi potensi ekonomi yang ada di suatu lokasi, Potensi ekonomi dapat berupa:
a.   Dana sebagai modal,
b.   Ketrampilan sebagai modal pengolahan,
c.   Tenaga kerja produktif sebagai pelaksana,
d.   Kesuburan tanah sebagai modal bertani, berkebun, memelihara ternak, dan ikan,
e.   Letak/lokasi yang strategis, keadaan alam antara lain  iklim, lingkungan, tempat menjual hasil usaha,
f.   Ketersediaan bahan mentah, pertanian, alam, tambang,
g.  Pangsa pasar

2) Mengidentifikasi jenis usaha ekonomi produktif yang dapat diusahakan dengan pertimbangan:
a. Melakukan penilaian terhadap aspek pasar,teknik, keuangan, yang terkait dengan kesempatan usaha yang yang akan dikembangkan,
b. Melihat ketrampilan yang dimiliki oleh para calon pengusaha terkait dengan kesempatan usaha yang ada,
c. Menganalisis apakah barang dan jasa yang  akan dikembangkan memiliki tingkat kelanggengan yang tinggi,
 d. Melihat tingkat pesaing yang ada, baik dari  dalam maupun dari luar negeri,

3) Membuat laporan studi kelayakan usaha,

2.  Memilih jenis usaha yang diprioritaskan:
Gunakan Analisis SWOT sbb.:
a. Kemampuan dalam mengelola wirausaha,
b. Kelemahan & kekurangan calon wirausaha,
c. Peluang/faktor pendukung dari luar diri calon  wirausaha
d. Ancaman berupa keadaan yang menjadi penghambat usaha yang berasal dari luar.

Lokasi Usaha
Salah satu keputusan yang sangat penting sebelum memulai bisnis waralaba adalah memilih lokasi yang strategis sebagai tempat usaha. Karena lokasi ikut berperan menentukan tingkat kesuksesan usaha Anda. Jika tidak atau belum memiliki bayangan seberapa strategis lokasi yang ingin Anda pilih, sebaiknya meminta kepada franchisor untuk memberi gambaran tentang lokasi tempat usaha itu. Atau, mintalah nasehat kepada franchisor dimana sebaiknya lokasi yang tepat untuk usaha Anda.
Biasanya, franchisor melakukan studi (riset) pasar sebelum memberikan persetujuan kepada franchisee. Riset ini salah satunya mengenai trade area franchise untuk mengetahui secara demografis potensi usaha dan informasi yang berhubungan dengan lokasi/tempat belanja masyarakat. Tidak ada salahnya jika Anda meminta lebih rinci gambaran dan potensi lokasi yang direncanakan. Berikut beberapa yang harus dipertimbangkan dalam memilih lokasi.
1.      Kepadatan penduduk
Kepadatan penduduk menjadi salah satu indikator besarnya potensi pasar usaha yang ingin Anda geluti, meskipun hal ini belum menjadi ukuran final. Apakah bisa dijadikan sebagaitempat belanja masyarakat.
2.      Penghasilan
Jika kepadatan penduduk tidak linear dengan daya beli masyarakatnya, maka berarti lokasi itu tidak tepat sebagai tempat/pusat perbelanjaan. Karena itu, perlu Anda cermati bagaimana penghasilan penduduk di area trade Anda. Apakah lingkungan dekat menyukai jika mereka ditawarkan produk dari usaha franchise atau pusat perbelanjaan yang Anda miliki?
3.      Jumlah usaha
Adakalanya, lokasi yang dipilih merupakan pusat shopping(pusat shopping) atau sentra perdagangan. Nah, apakah banyaknya usaha berpengaruh kepada lokasi? Apakah tipe bisnis di area itu menggunakan produk atau service yang ditawarkan franchise?
4.      Tempat
      Ada beberapa tipe tempat yang bisa dipilih untuk usaha Anda seperti mal (shopping mall), sentra usaha, perumahan, pinggir jalan dan sebagainya. Anda perlu menanyakan, apakah kebanyakan franchisee yang sukses berada di lokasi franchise seperti di dalam mal, di bagian yang paling ramai, di bagian terpisah dari mal, stand atau bangunan tersendiri atau di sentra industri?
5.      Jumlah Traffic
Berapa banyak kendaraan yang lalu lalang di lokasi itu per harinya? Apakah orang yang lalu lalang akan dapat melihat tanda bisnis (plang) Anda? Apakah lokasinya mudah diakses?
6.      Pusat keramaian
        Jika lokasi berada di bagian mal misalnya Mall Town Square, kebanyakan pusat lalu lalang yang terbaik adalah di outlet-outlet makanan. Kadang-kadang, di seberang jalan mal juga menjadi tempat yang di penuhi orang lalu lalang dan biasanya harga sewanya juga lebih murah. Bisa juga lokasinya di rumah sakit, kampus atau di pusat-pusat orang datang.
7.  Akses karyawan
Bisa saja lokasi yang jarak tempuhnya sangat jauh menjadi kontra produktif buat karyawan Anda. Karena itu, lokasi sebaiknya terbilang cukup dekat terutama bagi karyawan utama Anda. Misalnya Mall Depok Town Square.


8.  Zona
Jika lokasi yang Anda pilih bukan daerah perdagangan semacam shopping mall atau tidak cocok dengan usaha Anda, sebaiknya tidak dipaksakan. Maka, perlu juga Anda menanyakan, apakah zona lokasi cukup pantas untuk bisnis Anda.
9.  Kompetisi
Pertimbangkan juga tingkat kompetisi usaha yang ingin Anda jalankan. Jika di lokasi tersebut sudah jenuh dengan usaha yang menawarkan produk sejenis, bisa jadi lokasi itu menjadi tidak strategis buat Anda.
10. Appearance
Anda pasti ingin usaha Anda terlihat berwibawa dan lingkungan di sekeliling lokasi tidak mengganggu usaha franchise Anda. Tanyakan kepada franchisor, apakah area lokasi cukup bersih dan terkendali? Apakah lingkungannya juga cukup baik? Selanjutnya, mintalah franchisor membantu Anda bernegosiasi untuk mendapatkan lokasi yang strategis dan harga sewa yang lebih murah. Karena bisa saja dalam kasus tertentu, usaha tersebut dibutuhkan, misalnya oleh real estat untuk menjaring pasar.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Lokasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi pabrik, besar sekali pengaruhnya terhadap tingkat kelancaran operasi perusahaan, faktor-faktor tersebut terdiri dari faktor utama dan faktor bukan utama. Faktor utama yaitu; letak sumber bahan baku, letak pasar, masalah transportasi, supply tenaga kerja dan pembangkit tenaga listrik. Sedangkan faktor bukan utama seperti, rencana masa depan perusahaan, kemungkinan adanya perluasan perusahaan, kemungkinan adanya perluasan kota, terdapatnya fasilitas-fasilitas pelayanan, terdapatnya fasilitas-fasilitas pembelanjaan, persediaan air, investasi untuk tanah dan gedung, sikap masyarakat, iklim dan keadaan tanah.
Berikut kriteria demografik dalam memilih lokasi usaha :
1. Usia penduduk yang menjadi target pasar Anda.
2. Jumlah keluarga
3. Income setiap keluarga
4. Jumlah penduduk
Kriteria tambahan
1. Kompetisi di area atau lokasi
2. Prosentase penduduk yang menjadi target Anda.
3. Jumlah pria dan wanitanya
4. Prosentase populasi berdasarkan income yang masuk kategori konsumen potensial
5. Jumlah rumah tangga dengan income yang lebih besar
6. Rata-rata income keluarga
7. Income kelurga yang medium
8. Prosentase penduduk yang berpendidikan sarjana
9. Prosentase penduduk yang bekerja kantoran
10. Kepadatan penduduk

www.skripsiutama.blogspot.com