Tampilkan postingan dengan label Pemasaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemasaran. Tampilkan semua postingan

Kumpulan Proposal Manajemen Pemasaran Lengkap

Kumpulan Proposal Manajemen Pemasaran Lengkap

This Image was ranked 8 by Bing.com for keyword skripsi pendidikan bahasa inggris kuantitatif, You will find this result http://www.bing.com/images/search?q=skripsi+pendidikan+bahasa+inggris+kuantitatif&count=300.

IMAGE META DATA FOR Kumpulan Proposal Manajemen Pemasaran Lengkap\'s IMAGE
TITLE:Kumpulan Proposal Manajemen Pemasaran Lengkap
IMAGE URL:https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiH8jpkIUqHMZpEQ9zBYyh6FsxRnvcQhP9cpKM9bkTNkDwm-qxynjeAPLr78pjAoLqZLXeHRYm5dul_uL2Z6hUE52PPUfxRwjADmbCnIcwhR96j8HVrxyazKcxl2TMaB4jMlkRDgh-rJZvK/s400/bentuk+laporan+cogs+-+image.PNG
THUMBNAIL:http://tse1.mm.bing.net/th?id=OIP.M78bc04aa4eb15b972c5e40f8e92a440ao0&w=192&h=166&c=7&rs=1&qlt=90&o=4&pid=1.1
IMAGE SIZE:·9 KBs
IMAGE WIDTH:379
IMAGE HEIGHT:328
DOCUMENT ID:OIP.M78bc04aa4eb15b972c5e40f8e92a440ao0
MEDIA ID:F9295930B367A51641BCC5FC210B5F0DF3499BD7
SOURCE DOMAIN:www.wallpaperpersib.com
SOURCE URL:http://www.wallpaperpersib.com/search/proposal-manajemen-pemasaran
THUMBNAIL WIDTH:192
THUMBNAIL HEIGHT:192

PENGARUH PENERAPAN KINERJA BAURAN PEMASARAN TERHADAP PEMBENTUKAN LOYALITAS PELANGGAN PADA BUTIK BUSANA MUSLIM SHAFIRA JALAN SULANJANA 28 (PM-21)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian
Sejak dasawarsa 1970'an, fenomena kebangkitan Islam terjadi di seluruh dunia. Dampak fenomena ini terhadap Islam di Indonesia mempengaruhi agama, politik dan keadaan sosial. Selain perubahan dalam bidang agama, politik dan sosial, salah satu perubahan yang jelas adalah pemakaian busana Muslim.

Salah satu fenomena yang juga cukup menarik perhatian penulis dan mungkin pula menarik perhatian banyak orang yaitu fenomena loyalitas pengguna busana Muslim di Indonesia mengingat pemakaian busana Muslim bukan merupakan bagian dari sejarah di Indonesia. Juga, karena Indonesia adalah negara tropis, busana Muslim tidak logis - disebabkan karena cuaca yang panas (Brenner 1996:673). Namun demikian, mengapa busana Muslim menjadi populer di Indonesia? Mungkin jawaban dari pertanyaan itu terdapat dalam perasaan identitas Muslim di Indonesia, sehingga hampir setiap orang Muslim mau berubah untuk menerima pemakaian busana Muslim yang sebenarnya tidak cocok untuk iklim di Indonesia.
Dalam hal ini, kesadaran setiap Muslim dipengaruhi oleh ajaran agamanya diantaranya ada beberapa bagian di Al Qur'an yang mewajibkan untuk menutup aurat.
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mu'min: hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Al-Qur'an Surat Al Ahzab: 59)”.

Sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945, hubungan antara Islam dan negara adalah hubungan yang sulit. Pemerintah Indonesia menolak permintaan menjadi negara Islam sejak kemerdekaan. Sekalipun sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam, agama itu tidak ditetapkan satu-satunya agama yang resmi di Indonesia. Ada lima agama resmi di Indonesia, dan kedudukan agama Islam sederajat dengan agama-agama lain. Pemerintahan pada waktu itu selalu mendorong partisipasi Islam dalam masalah sosial, tetapi Islam politik ditiadakan, khususnya sumber kekuasaan Islam politik (Brenner 1996:676). Gerakan Darul Islam - gerakan yang berusaha mendirikan negara Indonesia sebagai negara Islam, dihilangkan pada tahun 1962 - memberi masyarakat Indonesia dengan perasaan negatif terhadap fundamentalisme di Indonesia (Jenkins 1998 dalam www.hamline.edu). Oleh karena itu, ketika busana Muslim menjadi populer pada tahun-tahun 1980'an, berarti dipengaruhi oleh situasi politik di Indonesia (Marcoes-Natsir 2004 dalam www.qantara.de). Pada waktu itu, dan beberapa tahun-tahun sebelumnya, masih ada banyak perusahaan dan organisasi yang melarang pegawai perempuan memakai busana Muslim (Powell 2003:45).

Pada tahun-tahun 1980'an setiap orang telah mengenal dan menggunakan busana Muslim meski masih dalam keadaan yang terbatas. Mereka berhenti memakai kebaya (yang menunjukkan lehernya) dan sarung (yang ketat) dan gaya rambut yang sulit. Reaksi terhadap perilaku ini adalah sikap kebingungan, kemarahan dan kecurigaan. Setiap orang yang menggunakan pakaian Muslim dianggap sebagai orang fanatik atau fundamentalis oleh masyarakat, termasuk keluarga dan teman-teman (Geertz dalam www.faculty.uccb.ns.ca). Pemerintah menciptakan aturan supaya busana Muslim dilarang di kantor-kantor pemerintahan. Sehingga menjadikan pilihan menggunakan busana Muslim adalah pilihan yang berat. Pada 1980'an seorang murid di Bogor, Jawa Barat, diberi pilihan ini: memilih berjilbab atau bersekolah, tetapi tidak bisa melakukan dua-duanya (Marcoes-Natsir 2004 dalam www.qantara.de).

Sebagai akibat gerakan revolusi Islam di negara Iran (yang mewajibkan penggunaan jilbab bagi perempuan), suasana dalam menggunakan busana Muslim menjadi lebih terbuka di seluruh dunia, termasuk negara Indonesia. Globalisasi Islam terjadi melalui perkembangan televisi dan media massa. Orang Islam mulai merasa sebagai anggota masyarakat internasional (Brenner 1996:678). Sebelum itu, berbusana Muslim dianggap sebagai hanya untuk ibu-ibu taat yang sudah tua yang tinggal di desa (Geertz dalam www.faculty.uccb.ns.ca). Kelihatannya lebih banyak orang Indonesia menjadi lebih senang kalau dapat mengekspresikan sendiri sebagai orang Islam dalam busana Muslim (Jenkins 1998 dalam www.hamline.edu).

Awal popularisasi terjadinya pengenalan busana Muslim di Indonesia, salah satunya adalah ketika pemerintahan Presiden Suharto menjalin hubungan dengan pemimpin Islam, untuk mendapatkan sokongan mereka bagi kelangsungan pemerintahan pada waktu itu. Pemerintah memberikan pembiayaan kepada pembangunan institusi dan organisasi Islam, misalnya bank-bank, pers Islam, mesjid, dan lembaga pendidikan. Keluarga Suharto ingin dianggap sebagai lebih taat, yang kemudian dilanjutkan dengan naik haji, dan anak perempuan mulai berjilbab (Marcoes-Natsir 2004 dalam www.qantara.de). Mereka sering menghadiri upacara Islam. Anak perempuan Suharto - Tutut - mulai berjilbab dalam gaya yang menarik, dan perempuan-perempuan mencoba mirip gayanya. Ini merupakan permulaan gerakan mode Islam di Indonesia.

Pada awalnya, gaya-gaya dan desain-desain mahal dan akibatnya bisa dibeli hanya oleh orang kaya saja. Tetapi desain yang lebih murah dan gaya yang biasa bisa diciptakan sendiri. Hal ini berarti bahwa mode Islam menjadi tersedia untuk semua tingkat golongan masyarakat (Marcoes-Natsir 2004 dalam www.qantara.de).
Sejarah popularisasi busana Muslim dipengaruhi oleh keadaan politik, sosial, dan ekonomi. Tetapi bagaimana pada saat ini? Busana Muslim sudah dipakai oleh banyak warga Indonesia, dan sudah diterima oleh kebanyakan orang Indonesia. Apa peran busana Muslim di antara konteks loyalitas di Indonesia?

Dalam bidang busana Muslim ada banyak gaya dan mode. Kalau berjilbab, bisa memakai topi di atas jilbab, bisa memasukkan plastik supaya melindungi kulit dari sinar matahari, dan bisa membeli jilbab yang sudah siap dipakai (misalnya kalau ada elastik dipakai). Busana Muslim adalah komoditi yang dibeli, dijual, dan dipakai di seluruh Indonesia, dan kemudian busana itu bisa dianggap sebagai unsur kebudayaan yang pada akhirnya menjadi lebih memasyarakat.

Dalam artikel Sian Powell (2003:45), dia menulis bahwa karena proses popularisasi busana Muslim dan proses westernisasi terjadi bersama-sama di Indonesia, maka mode menjadi unsur berpakaian yang sangat penting, dan pada saat ini kalau ada orang yang menggunakan busana Muslim dianggap sebagai orang yang bermode. Oleh karena itu, ada banyak perempuan di Indonesia yang baru berjilbab.

Dari semua informasi tersebut, bisa dilihat bahwa industri busana Muslim adalah industri yang cukup besar. Artikel yang mempertunjukkan bagaimana menggunakan busana Muslim, bagaimana menjahit busana Muslim dan bagaimana tetap cantik sementara berbusana Muslim sudah cukup banyak. Artikel-artikel tentang busana Muslim ditawarkan sama dengan artikel tentang kesehatan, masakan, dan kesantaian dalam satu edisi majalah atau koran tabloid. Karena busana Muslim tersedia sama seperti halnya busana lain di dalam beberapa majalah dan koran tabloid di Indonesia, ini bukti bahwa industri mode Islam bagian biasa industri mode di Indonesia. Dari contoh iklan Sunsilk Hijau bisa dilihat bahwa industri kosmetika juga menjadi tertarik pada busana Muslim, karena mereka menjadi sadar bahwa industri ini sudah bertambah cepat. Perusahaan itu meneliti bagaimana menciptakan sampo yang khusus untuk orang berkerudung.

Dalam hubungannya dengan perekonomian dan perkembangan busana Muslim, PT Shafira Laras Persada adalah merupakan salah satu contoh perdagangan produk busana Muslim di Indonesia dan lebih kecil lagi yaitu di Kota Bandung selain dari perusahaan lain yang juga memproduksi busana Muslim (diperlihatkan pada tabel 1.1). PT Shafira Laras Persada merupakan salah satu perusahaan produk busana Muslim yang cukup memiliki pelanggan yang loyal. Shafira yang berlokasi di wilayah Bandung memiliki dua butik sebagai tempat penjualan produk-produknya salah satunya adalah yang sedang penulis teliti yaitu Butik busana muslim Shafira di jalan Sulanjana 28 sedangkan lainnya berada di jalan Buah Batu 165 berlokasi di wilayah Bandung Selatan. Dilihat dari data perusahaan, dalam satu hari pelanggan yang datang cukup banyak yaitu berjumlah 7-8 orang setiap harinya yang tidak hanya berasal dari kota Bandung saja tetapi juga berasal dari kabupaten Bandung, dan Kabupaten Sumedang. Sedangkan untuk total pelanggannya sendiri Shafira di jalan Sulanjana memiliki sebanyak 250 orang member/pelanggan. Ini menjadi menarik untuk diteliti oleh penulis, karena secara umum pola pemasaran Shafira lebih menekankan kepada kalangan kelas menengah ke atas, sehingga melihat pelanggan dari karakteristik baik itu dari asal domisilinya, tingkat pendapatannya, tingkat pendidikannya, golongan usianya, dan jenis kelaminnya, diharapkan dapat memberikan gambaran tentang pendapat mengenai loyalitas pelanggan terhadap produk busana Muslim Shafira yang dipasarkan.

Hal menarik lainnya tentang produk busana Muslim ini adalah mengenai hal apa yang membuat orang mau melakukan kunjungan atau bahkan pembelian produk Shafira? Apakah karena faktor produk yang ditawarkan disana memiliki variasi produk yang banyak? atau karena harga produk yang ditawarkan disana relatif terjangkau? atau tempat penjualan dimana terdapat korelasi antara kenyamanan dengan berbelanja? atau hanya sebuah trend untuk mengunjungi dan melakukan pembelian produk busana Muslim?
Pada pengamatan sebelumnya mengenai tanggapan konsumen Shafira terhadap pelaksanaan kinerja bauran pemasaran perusahaan, maka terdapat beberapa orang pelanggan yang menyatakan tentang produk yang kurang memiliki tingkat kualitas yang diharapkan karena ternyata produk yang ditawarkan terkadang memiliki kekurangan, seperti jahitan yang kurang baik, warna yang luntur, dan terkadang sulit untuk mencari ukuran yang sesuai sehingga ada pelanggan yang mengeluhkan bahwa pelanggan tersebut harus menyesuaikan kembali busana yang telah dibeli karena tidak ada ukuran produk yang sesuai. Selain dari hal diatas ada juga yang menyatakan tentang alat-alat promosi yang terkadang masih belum dapat memberikan informasi menyeluruh mengenai Shafira hala lainnya lagi yaitu tempat yang agak dalam dan terkadang sulit untuk terjangkau.

Namun terlepas dari itu semua, PT Shafira Laras Persada telah banyak memberikan kontribusi besar dalam perekonomian terutama dalam membangun trend mode Islami dalam jangka waktu yang cukup lama. Di lain sisi keberadaan Shafira merupakan suatu alternatif pembelian produk busana yang saat ini sedang menuai keuntungan yang cukup besar dikarenakan mode yang sedang menjamur di kalangan masyarakat.

Kembali ke masalah loyalitas pelanggan yang cukup unik untuk dapat diperkirakan ini, maka kita akan membahasnya melalui sudut pandang manajemen pemasaran dalam membentuk suatu kinerja perusahaan dengan pendekatan atribut pemasaran yaitu pada model bauran pemasaran (marketing mix) yang dikembangkan oleh Kotler Philip (2003:393), terdiri dari product, promotion, price, dan place (distribution channel). Hal ini untuk melihat yang dirasakan pelanggan tentang kualitas produk atau jasa layanan perusahaan produk busana muslim dan kualitas produk atau jasa layanan seperti apa yang diinginkan oleh pelanggan.

Untuk mengidentifikasi pemenuhan tingkat kualitas harapan para konsumen tidak mudah, karena sekali konsumen dapat merasakan kualitas produk atau jasa layanan yang tinggi baik dari perusahaan maupun dari pesaingnya, maka mereka akan mengharapkan pengalaman yang sama akan berulang. Apabila suatu perusahaan dapat mengidentifikasi kualitas produk atau jasa layanan sesuai dengan harapan konsumen, sudah barang tentu hal ini akan menimbulkan kepuasan pada konsumennya, dengan kata lain penawaran kualitas produk atau jasa layanan yang baik dapat mempengaruhi pemakaian ulang produk ataupun jasa perusahaan.

Kualitas produk atau jasa layanan yang baik dalam menciptakan kepuasan konsumen memberikan berbagai manfaat, diantaranya memberikan dasar yang kuat bagi terciptanya kesetiaan konsumen yang pada akhirnya disebut sebagai loyalitas pelanggan. loyalitas pada suatu perusahaan akan membentengi pelanggan dari serangan para pesaing (retention). Di samping itu, loyalitas yang tinggi juga menjadi pendorong untuk melakukan pembelian ulang (repurchase) serta mengajak orang lain untuk menggunakan jasa tersebut (referral).

Agar dapat memperoleh informasi yang lebih jelas dan disertai bukti ilmiah mengenai bagaimana pengaruh penerapan bauran pemasaran produk busana muslim dalam peningkatan kinerja, arahan, serta motivasi pemasaran terhadap pembentukan loyalitas pelanggan, perlu dilakukan suatu penelitian ilmiah. Untuk itu penulis akan melakukan penelitian dengan menjadikan butik busana muslim Shafira di jalan Sulanjana 28, Bandung sebagai studied population.

1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah

PT Shafira Laras Persada adalah merupakan salah satu contoh perdagangan produk busana Muslim di Indonesia dan lebih kecil lagi yaitu di Kota Bandung selain dari perusahaan lain yang juga memproduksi busana Muslim. PT Shafira Laras Persada merupakan salah satu perusahaan produk busana Muslim yang cukup memiliki pelanggan yang loyal. Shafira yang berlokasi di wilayah Bandung memiliki dua butik sebagai tempat penjualan produk-produknya salah satunya adalah yang sedang penulis teliti yaitu Butik busana muslim Shafira di jalan Sulanjana 28 sedangkan lainnya berada di jalan Buah Batu 165 berlokasi di wilayah Bandung Selatan.

Pada pengamatan sebelumnya terdapat beberapa orang pelanggan yang menyatakan tentang produk yang kurang memiliki tingkat kualitas yang diharapkan karena ternyata produk yang ditawarkan terkadang memiliki kekurangan seperti jahitan yang kurang baik, warna yang luntur, dan terkadang sulit untuk mencari ukuran yang sesuai sehingga ada pelanggan yang mengeluhkan bahwa pelanggan tersebut harus menyesuaikan kembali busana yang telah dibeli karena tidak ada ukuran produk yang sesuai. Selain dari hal diatas ada juga yang menyatakan tentang alat-alat promosi yang terkadang masih belum dapat memberikan informasi menyeluruh mengenai Shafira serta tempat yang agak dalam dan terkadang sulit untuk terjangkau.

Kembali ke masalah loyalitas pelanggan yang cukup unik untuk dapat diperkirakan ini, maka kita akan membahasnya melalui sudut pandang manajemen pemasaran dalam membentuk suatu kinerja perusahaan dengan pendekatan atribut pemasaran produk yaitu pada model bauran pemasaran (marketing mix) yang dikembangkan oleh Kotler Philip (2003:393), terdiri dari product, promotion, price, dan place (distribution channel). Hal ini untuk melihat yang dirasakan pelanggan tentang kualitas produk atau jasa layanan perusahaan produk busana muslim dan kualitas produk atau jasa layanan seperti apa yang diinginkan oleh pelanggan. dari kedua fenomena di atas maka akan dihubungkan sehingga dapat dihasilkan hubungan yang terjadi apakah memiliki tingkat pengaruh yang signifikan atau tidak.

Berdasarkan uraian identifikasi masalah diatas maka dapat diajukan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kinerja bauran pemasaran yang meliputi produk, tempat, promosi, dan harga di butik busana Muslim Shafira dilihat dari tanggapan konsumen yaitu pelanggan busana Muslim Shafira.
2. Sejauh mana pengaruh kinerja bauran pemasaran terhadap pembentukan loyalitas pelanggan dalam pemberian rekomendasi, pemakaian ulang, membelia antar lini produk, dan penolakan terhadap produk lain di butik busana Muslim Shafira yang dilihat dari tanggapan konsumen yaitu pelanggan busana Muslim Shafira.

Pengetahuan Konsumen Mengenai Perbankan Syariah dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Menjadi Nasabah pada PT Bank Syariah Mandiri Tbk (PM-19)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian
Eksistensi lembaga keuangan khususnya sektor perbankan menempati posisi sangat strategis dalam menjembatani kebutuhan modal kerja dan investasi di sektor riil dan pemilikan dana. Dengan demikian, fungsi utama sektor perbankan dalam infrastuktur kebijakan makro ekonomi memang diarahkan dalam konteks bagaimana menjadikan uang efektif untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi (how to make money effective and efficient to increase economic value).

Krisis moneter yang melanda Indonesia beberapa tahun yang lalu berdampak besar pada industri perbankan. Pelaksanaan likuidasi terhadap enam belas bank swasta nasional pada bulan oktober 1997 menimbulkan krisis kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan nasional. Meskipun pemerintah menjamin keamanan dana yang disimpan nasabah baik di bank pemerintah maupun di bank swasta nasional melalui pengumuman pada tanggal 27 Januari 1998, dampak likuidasi tidak terelakkan. Para nasabah terdorong untuk menarik dana mereka secara besar-besaran (rush) dari perbankan nasional karena khawatir dengan adanya kemungkinan pelaksanaan likuidasi lanjutan yang akan membahayakan keamanan dana yang mereka simpan tersebut. Pemerintah berupaya menarik dana masyarakat dengan menaikkan suku bunga yang juga bertujuan untuk menekan inflasi dan mendorong apresiasi nilai tukar rupiah. Peningkatan suku bunga ini ternyata malah menimbulkan negative spread yaitu keadaan dimana bank mengalami kesulitan likuiditas karena beban bunga melebihi pendapatannya.

Kondisi perbankan nasional semakin terpuruk dengan adanya kredit macet sehingga menekan rasio kecukupan modal (capital Adequacy Ratio/CAR). Pemerintah kembali melakukan likuidasi terhadap bank-bank yang memiliki CAR dibawah 4% sampai akhir tahun 1998 dan memberikan dana BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Kebijakan ini memicu merger dan ditindaklanjuti dengan likuidasi terhadap sepuluh bank, serta tiga puluh delapan bank pada bulan Maret 1999 ditindaklanjuti dengan akuisisi terhadap sembilan bank nasional (Tim Bank Muamalat Indonesia, Republika 2001)
Selama krisis moneter (1997-1998) bank syariah dapat bertahan dan dapat menunjukkan kinerja yang relatif lebih baik dibandingkan lembaga perbankan konvensional. Itu dapat dilihat dari relatif lebih rendahnya penyaluran pembiayaan yang bermasalah (non performing loan, tahun 2000 sebesar 12,96 % dan tahun 2001 sebesar 4,04 %, sumber: Bank Indonesia) pada bank syariah dan tidak terjadinya negative spread dalam kegiatan operasionalnya. Dengan filosofi utamanya, kemitraan dan kebersamaan dalam maupun risk, bank syariah terbukti prospektif untuk berkembang di tanah air.

Perkembangan perbankan syariah menunjukkan laju yang signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan terjadinya peningkatan nilai asset perbankan syariah yang telah mencapai Rp 4,78 triliun. Sementara dana pihak ketiga mencapai Rp 3,4 triliun, dengan pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah telah mencapai Rp 3,86 triliun. Hal ini menunjukkan terjadinya peningkatan untuk jumlah asset sebesar 18,22%, dana pihak ketiga sebesar 16,66%, dan pembiayaan yang disalurkan 17,73% dibandingkan terhadap posisi masing-masing di akhir tahun 2002 (Deputi BI Maulana, Republika 25/6/2003)

Salah satu tantangan yang kini banyak dihadapi dan paling berat adalah banyaknya tudingan yang mengatakan bank syariah hanya sekedar perbankan konvensional yang ditambah label syariah. Tantangan lainnya adalah bagaimana menonjolkan ciri khas perbankan syariah, yakni bank yang secara langsung membangun sektor riil dengan prinsip keadilan. Selain itu, dari aspek eksternal, sektor perbankan syariah memiliki tantangan dari sisi pemahaman sebagian masyarakat yang masih rendah terhadap operasional bank syariah. Mereka secara sederhana beranggapan bahwa dengan tidak dijalankannya sistem bunga, bank syariah tidak akan memperoleh pendapatan. Konsekuensinya adalah bank syariah akan sulit untuk survive.

Penelitian dilakukan oleh Bank Indonesia bekerjasama dengan beberapa lembaga penelitian yang berusaha untuk memetakan potensi pengembangan Bank Syari’ah yang didasarkan pada analisis potensi ekonomi dan pola sikap/preferensi dari pelaku ekonomi dan jasa Bank Syari’ah. Selain itu juga untuk mempelajari karakteristik dan perilaku dari kelompok masyarakat pengguna dan calon pengguna jasa perbankan syari’ah sebagai dasar penetapan strategi sosialisasi dan pemasaran bagi bank-Bank Syari’ah. Penelitian tersebut dilakukan di seluruh Pulau Jawa dengan mengambil sampel di beberapa kabupaten dan kotamadya, yang dibagi menjadi tiga wilayah penelitian: Jawa Barat, Jawa Tengah/DIY dan Jawa Timur.

Dari penelitian tersebut terungkap bahwa 95% responden berpendapat bahwa sistem perbankan penting dan dibutuhkan dalam mendukung kelancaran transaksi ekonomi. Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa kesan umum yang ditangkap oleh masyarakat tentang Bank Syari’ah adalah (1) Bank Syari’ah indentik dengan bank dengan sistem bagi hasil, (2) Bank Syari’ah adalah bank yang Islami. Namun berdasarkan survey yang dilakukan di wilayah Jawa Barat 8,1% responden yang menyatakan bahwa Bank Syari’ah secara ekslusif hanya khusus untuk umat Islam. Selain itu juga terungkap bahwa pengetahuan masyarakat tentang sistem perbankan syari’ah relatif tinggi. Meskipun demikian pemahaman mengenai keunikan produk/jasa Bank Syari’ah secara umum masih rendah.

Saat ini sebagian besar dari mereka hanya melihat bahwa nilai tambah bank syariah adalah lebih halal dan selamat, lebih menjanjikan untuk kebaikan akhirat, dan juga lebih berorientasi pada menolong antarsesama dibandingkan dengan bank konvensional. Hal tersebut memang benar, namun bank syariah memiliki keuntungan duniawi karena produk-produknya tidak kalah bersaing dengan bank-bank konvensional dan juga bagi hasil yang ditawarkan tidak kalah menguntungkan dibandingkan dengan bunga.

Dengan masih rendahnya pemahaman masyarakat akan pemahaman Islam apalagi masalah perbankan bahkan perekonomian secara lebih luas maka perbankan syariah harus terus berkembang dan memperbaiki kinerjanya. Dengan pesatnya pertumbuhan yang ditandai semakin banyaknya bank konvensional yang akhirnya mendirikan unit-unit syariah, ini membuktikan bahwa bank syariah memang mempunyai kompetensi yang tinggi. Perbankan syariah akan semakin tinggi lagi pertumbuhannya apabila masyarakat mempunyai permintaan dan antusias yang tinggi dikarenakan faktor peningkatan pemahaman dan pengetahuan tentang bank syariah, disamping faktor penyebab lainnya.

Pemahaman yang rendah terhadap perbankan syariah salah satunya diakibatkan kurang dan masih bersifat parsialnya sosialisasi yang dilakukan terhadap prinsip dan sistem ekonomi syariah. Dengan demikian hal tersebut mempengaruhi persepsi dan dan sikap masyarakat terhadap bank syariah. Maka tugas penting yang harus dilakukan oleh pengelola bank syariah adalah meningkatkan sosialisasi sistem bank syariah melalui media massa yang efektif, sehingga pengetahuan masyarakat mengenai bank syariah tidak hanya terbatas pada bank yang menggunakan sistem bagi hasil.

Mengapa memahami pengetahuan konsumen penting bagi pemasar ? Karena apa yang dibeli, berapa banyak yang dibeli, dimana membeli, dan kapan membeli, akan tergantung kepada pengetahuan konsumen mengenai hal-hal tersebut. Oleh karena itu, pengetahuan konsumen akan mempengaruhi keputusan pembelian. Ketika konsumen memiliki pengetahuan yang lebih banyak, maka ia akan lebih baik dalam mengambil keputusan. Ia akan lebih efisien dan lebih tepat dalam mengolah informasi serta mampu merecall informasi dengan lebih baik.

Kini bank syariah tumbuh dan berkembang pesat. Apalagi dengan hadirnya sejumlah Bank Umum Syariah (BUS) semakin memantapkan posisi perbankan syariah di Indonesia. Salah satu BUS yang sedang mendapat sorotan publik adalah Bank Syariah Mandiri (BSM) yang resmi beroperasi pada hari Senin, 1 November 1999, bertepatan dengan tanggal 25 Rajab 1420 H. BSM yang merupakan anak perusahaan PT Bank Mandiri (Persero) hadir sebagai bank yang mengkombinasikan idealisme usaha dan nilai-nilai rohani dalam operasionalisasinya. Harmoni antara idealisme usaha dan nilai-nilai rohani tersebut, menjadi salah satu keunggulan BSM sebagai solusi dan kiprah baru perbankan Indonesia.
Sementara itu, BSM sebagai bank umum syariah yang terbesar dan kini telah memiliki kantor cabang sebanyak 49 kantor cabang (KC), 29 kantor cabang pembantu (KCP), dan 47 kantor kas (KK) per Desember 2004 terus berkembang, baik dari segi aset, total dana pihak ketiga (DPK) maupun kinerja keuangan, neraca dan laba usaha.

Sorotan itu tampaknya tidaklah berlebihan karena Bank Syariah Mandiri dinilai memiliki tingkat akselerasi yang signifikan dalam menyemarakkan kiprah perbankan syariah di Indonesia. Selama lima tahun kiprahnya, BSM telah memperoleh sejumlah pengakuan dan prestasi yang cukup membanggakan, baik dari pemerintah, lembaga independen, MUI maupun lembaga internasional. Di antara prestasi yang diraih oleh BSM adalah The Best Quality Service dan The Most Comfortable Mushala dalam Islamic Banking Quality Award 2004 dari Karim Business Consulting (KBC) dan Majalah Modal.

Kemudian, Bank Terbaik 2004 Kategori Syariah dari Majalah Investor, Bank Sehat dari BI, Bank Sangat Bagus versi Infobank (sejak 2001), dan Perbankan Syariah Terbaik, berdasarkan kinerja, perstasi dan pengamalan syariat Islam dari MUI, serta Islamic Banking Award 2004 dari KBC dengan kategori The Wisest Market Are Coverage, The Biggest Market Share, The Fastest Growth of Funding dan The Most Innovative. BSM juga memperoleh sertifikat ISO 9001:2000 bidang audit, bidang pembiayaan dan pelayanan dari Lloyd's Register Quality Assurance-UKAS. Kini, di usianya yang keenam, BSM ingin melangkah lebih jauh. Yakni, menjadi bank Islam yang modern, baik dari segi pelayanan, kualitas, produk perbankan, jaringan maupun sistem teknologi informasi (Pengelola BSM, Muhammad Haryoko).

Adopsi perbankan syariah dalam sistem perbankan nasional bukanlah semata-mata mengakomodasi kepentingan penduduk Indonesia yang mayoritas sebagian besar muslim, namun lebih kepada adanya faktor keunggulan atau manfaat lebih dari perbankan syariah dalam menjebatani ekonomi. Dalam sistem perbankan konvensional, selain berperan sebagai jembatan antara pemilik dana dan dunia usaha, perbankan juga masih menjadi penyekat antara keduanya karena tidak adanya transferability risk and return. Tidak demikian halnya sistem perbankan syariah dimana perbankan syariah menjadi manajer investasi, wakil, atau pemegang amanat dari pemilik dana atas investasi di sector riil. Dengan demikian, seluruh keberhasilan dan resiko dunia usaha secara langsung didistribusikan kepada pemilik dana sehingga menciptakan suasana harmoni.

Kendati secara prinsip bank syariah memiliki advantage, namun dalam realitasnya bank syariah, tanpa terkecuali Bank Syariah Mandiri, menghadapi beberapa kendala dan kelemahan yang memerlukan pembenahan. Diantaranya yaitu jaringan operasi yang belum luas, institusi pendukung yang belum lengkap dan efektif, efisiensi operasional bank syariah yang belum optimal dan masih sedikitnya sumber daya manusia yang memiliki keahlian dalam perbankan syariah. Dari sisi konsumen, kelemahan lainnya yakni masih terbatasnya pemahaman masyarakat mengenai kegiatan usaha jasa keuangan perbankan syariah. Keterbatasan ini menyebabkan banyak masyarakat yang memiliki persepsi yang kurang tepat mengenai operasi bank syariah.

Bank Syariah termasuk di dalamnya Bank Syariah Mandiri dituntut untuk lebih gencar dan berani membuka diri guna terus meningkatkan sosialisasi dengan masyarakat luas terutama dalam menumbuhkan kesadaran akan pentingnya penerapan syariah dalam kehidupan tanpa terkecuali dalam aspek ekonomi.

Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang bank syariah menjadi isu strategis dalam pengembangan bank syariah di masa yang akan datang. Semakin baik pengetahuan tentang bank syariah semakin tinggi kemungkinan untuk mengadopsi bank syariah. Sebagian besar masyarakat yang mengadopsi bank syariah masih dominan dipengaruhi oleh emosi keagamaan belum berdasarkan pada pemahaman rasional yang baik.

Dengan mengetahui pentingnya pengetahuan konsumen tentang perbankan syariah, Bank Syariah Mandiri diharapkan dapat mengetahui dengan cara apa perusahaan dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan nasabah.
Kondisi inilah yang menarik perhatian penulis untuk melakukan suatu penelitian dengan rumusan sebagai berikut :
Pengetahuan Konsumen (Consumer knowledge) Mengenai Perbankan Syariah dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Menjadi Nasabah pada PT Bank Syariah Mandiri Tbk Cabang Bandung.

1.2 Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah

Identifikasi masalah yang diteliti berdasarkan latar belakang penelitian adalah berdasarkan fenomena yang terjadi diduga bahwa tingkat pemahaman masyarakat mengenai perbankan syariah masih tergolong rendah. Dengan masih terbatasnya pemahaman masyarakat mengenai kegiatan usaha jasa keuangan perbankan syariah, menyebabkan banyak masyarakat yang memiliki persepsi yang kurang tepat mengenai operasi bank syariah. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah faktor psikologis termasuk di dalamnya yaitu faktor pengetahuan konsumen. Pengetahuan konsumen terdiri dari informasi yang disimpan di dalam ingatan. Penulis membatasi pada tiga jenis pengetahuan konsumen yaitu pengetahuan tentang atribut produk, manfaat produk, dan nilai kepuasan yang diperoleh dari produk yang ditawarkan perusahaan.

Di sisi lain, pemahaman konsumen akan mempengaruhi persepsinya terhadap sesuatu hal, dalam hal ini terhadap perbankan syariah. Pemahaman yang mendalam mengenai konsumen akan memungkinkan pemasar dapat mempengaruhi keputusan konsumen, sehingga mau membeli apa yang ditawarkan pemasar. Oleh karena itu, pengetahuan konsumen turut memberikan andil pada proses pengambilan keputusan konsumen.

Adapun rumusan masalah yang diajukan adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengetahuan konsumen (berdasarkan atribut, manfaat, dan nilai kepuasan produk) mengenai perbankan syariah dan keputusan menjadi nasabah PT Bank Syariah Mandiri Tbk cabang Bandung yang terletak di Jl. Ir. H. Djuanda No. 74
2. Sejauh mana pengaruh pengetahuan konsumen terhadap keputusan menjadi nasabah
3. Jenis pengetahuan konsumen apa yang paling menentukan keputusannya untuk menjadi nasabah

PENGARUH PENAWARAN PRODUK IMITASI JENIS FASHION TERHADAP PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN KONSUMEN PADA KONSUMEN PASAR ECERAN PEKANAN GASIBU (PM-20)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Perilaku pembelian konsumen memang merupakan suatu pembahasan yang unik dan menarik , sebab bahasan ini akan menyangkut pada berbagai faktor di berbagai dimensi kehidupan manusia yang berbeda-beda. Selama manusia tersebut melakukan kegiatan perekonomian –pembelian- dalam kehidupan, maka selama itu kita akan selalu mendapatkan fenomena-fenomena baru dalam pola perilaku pembeliannya.

Salah satu fenomena yang cukup menarik perhatian penulis dan mungkin pula menarik perhatian banyak orang yaitu fenomena peredaran produk-produk imitasi –barang palsu- sebagai sebuah alternatif baru dalam pilihan konsumsi konsumen Indonesia. “Tiap orang di Indonesia menggunakan produk imitasi, setidaknya sekali seumur hidup” itulah sebuah satire yang mungkin pernah kita dengar. Kalau mau jujur berapa persen dari seluruh produk yang kita miliki yang benar-benar orisinal? Sisanya, bisa merupakan imitasi atau meniru sendiri. Hal seperti ini nampaknya nikmat dari sisi konsumen, tapi merupakan musibah bagi pihak perusahaan. Terlebih lagi apabila kita dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa International Intellectual Property Alliance (IIPA), sebuah organisasi independen di AS, merekomendasikan kepada Departemen Perdagangan AS dan World Intellectual Property Organization untuk tetap memasukkan Indonesia dalam peringkat yang diawasi. Sejak tahun 2000, Amerika menganggap Indonesia kurang serius dalam pelindungan HAKI. Hal itu tampak pada klaim pelanggarannya yang mencapai 668,2 juta dollar AS tahun 1997. Dari jumlah itu, pembajakan hak cipta mencapai 334,1 juta dollar AS, program komputer 256,1 juta dollar AS, serta untuk pembajakan buku, film, rekaman lagu, dan komposisi musik total sebesar 78 juta dollar AS (kompas/16 April 2002). Data tersebut, belum termasuk pembajakan terhadap karya-karya lokal.

Salah satu bukti kasar yang dapat kita lihat di lapangan yaitu semakin meningkatnya konsumen maupun produsen produk-produk imitasi di berbagai tempat. Terlepas dari legal maupun tidak legalnya kegiatan perekonomian semacam ini, kita dapat saksikan dengan jelas bahwa tempat-tempat yang menjual produk-produk imitasi tidak pernah sepi dari kegiatan perekonomian, sekalipun itu pada hari libur.

Bahasan ini semakin menarik karena produk imitasi yang dahulunya dianggap hanya mengunggulkan harga yang murah dengan mengabaikan kualitas dari produk yang ditawarkan, ternyata saat ini tidak seluruhnya benar. Sebab dalam sebuah perbincangan, penulis menemukan sebuah pendapat baru bahwa tidak semua barang imitasi kualitasnya rendah, pada kenyataannya banyak barang imitasi sudah mulai menyamai kualitas dari barang yang diimitasinya. Bahkan ada beberapa produsen produk imitasi yang berani menyatakan bahwa produk yang ditawarkannya tidak kalah dengan produk aslinya.

Hal ini semakin masuk akal ketika ada sebuah argumen bahwa produk imitasi dapat menawarkan produknya dengan kualitas hampir menyamai bahkan sama dengan produk aslinya dengan harga yang jauh dibawah harga produk asli, disebabkan produsen produk imitasi dapat memangkas banyak biaya yang seharusnya harus dikeluarkan oleh para produsen produk asli. Sebagian produsen produk asli mematok harga yang mahal dikarenakan mereka harus menutup berbagai biaya seperti biaya promosi –dimana sebagian besar perusahaan dunia menganggarkan sepertiga dari anggaran tahunannya untuk biaya ini-, biaya penelitian dan pengembangan produk, biaya penyaluran&distribusi serta pajak yang persentasenya tidak sedikit. Selain itu, harga mahal dapat juga disebabkan karena produk tersebut telah memiliki popularitas dimata konsumen, sehingga beberapa konsumen cenderung “membeli merek” dan mengesampingkan kualitas maupun harga.

Di bidang merek, pelanggaran tidak hanya menyangkut merek-merek asing. Selain merek terkenal asing, termasuk yang telah diproduksi di dalam negeri, merek-merek lokal juga tak luput dari sasaran peniruan dan pemalsuan. Di antaranya, produk rokok, tas, sandal dan sepatu, busana, parfum, arloji, alat tulis dan tinta printer, oli, dan bahkan onderdil mobil. Kasus pemalsuan yang terakhir ini terungkap lewat operasi penggerebekan terhadap sebuah toko di Jakarta Barat yang mendapatkan sejumlah besar onderdil Daihatsu palsu. Pelakunya telah ditindak dan saat ini sedang menjalani persidangan di PN Jakarta Barat.

Dalam hubungannya dengan perekonomian, Pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung merupakan salah satu contoh sentra perdagangan produk imitasi di Kota Bandung setelah Pasar Baru dan Dalem kaum. Pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung merupakan salah satu pasar yang dikunjungi konsumen dalam jumlah yang relatif besar walaupun pasar ini hanya ada setiap hari minggu. Dari sebuah sumber pengunjung pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung tiap pekannya diperkirakan mencapai 10.000 orang yang berasal dari seluruh pelosok Kota Bandung hingga Kotif Cimahi, Kabupaten bandung, dan Kabupaten Sumedang. Ini juga menjadi menarik untuk diteliti oleh penulis, karena secara umum cukup meratanya pengunjung pasar Gasibu, baik itu dari asal domisilinya, tingkat pendapatannya, tingkat pendidikannya, golongan usianya, dan jenis kelaminnya, diharapkan dapat memberikan gambaran tentang pendapat penduduk Kota Bandung mengenai peredaran produk imitasi jenis fashion di kotanya atau minimal pendapat pengunjung pasar eceran pekanan Gasibu itu sendiri.

Hal yang menarik lainnya adalah hal apa yang membuat banyak orang yang mengunjungi pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung tiap pekannya? Apakah karena faktor produk yang ditawarkan disana memiliki variasi produk yang banyak? atau karena harga produk yang ditawarkan disana relaitif dibawah harga normal yang berlaku? atau tempat penjualan dimana terdapat korelasi antara olah raga pagi dengan berbelanja? atau hanya sebuah trend untuk mengunjungi Gasibu tiap hari minggu?

Namun terlepas dari itu semua, pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung telah memberikan kontribusi besar dalam perekonomian setiap pekannya. Baik itu kontribusi bagi pedagangnya sebagai tempat mencari nafkah, kontribusi yang berasal dari biaya retribusi yang masuk ke kas Pemda, atau kontribusi bagi konsumen yang mendapat penawaran produk dengan harga yang relatif terjangkau. Di lain sisi keberadaan pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung banyak meresahkan pihak-pihak yang merasa terancam dengan keberadaan pasar jenis ini. Banyak hal yang harus diamati mengenai tempat ini sebab bukan hanya efek negatif saja yang ditimbulkan, namun ternyata efek positif bagi beberapa pihak juga dapat dirasakan dengan jelas.

Kembali ke masalah perilaku pembelian konsumen, untuk memahami pola perilaku pembelian konsumen yang unik ini, maka kita akan membahasnya melalui sudut pandang atribut-atribut program pemasaran sebuah produk (marketing mix). Atribut-atribut program pemasaran sebuah produk tersebut dapat menjadi sebuah obyek yang menarik dan mengundang perhatian, terutama bagi pengunjung pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung dan penduduk kota Bandung pada umumnya. Selanjutnya, atribut tadi menjadi stimulus (rangsangan) yang akan diinterpretasikan hingga menjadi gambaran yang berarti dan saling berkaitan atau persepsi, berdasarkan kriteria evaluasi yang ada di benak mereka. Setiap individu memiliki kriteria evaluasi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya sehingga persepsi yang muncul pun akan berbeda-beda. Sementara itu suatu obyek akan dapat dinilai dari berbagai segi berdasarkan jumlah atribut yang melekat padanya. Kumpulan persepsi seseorang terhadap suatu obyek membentuk suatu citra tertentu atas obyek yang bersangkutan, maka dalam penelitian ini bila obyeknya adalah suatu produk imitasi jenis fashion maka citra yang terbentuk itu disebut citra produk imitasi jenis fashion.

Konsumen sebagai individu perilakunya turut dibentuk oleh faktor psikologis yang terdiri dari motivasi, persepsi, pengetahuan, keyakinan dan pendirian. Dengan demikian, perilaku pembelian yang diperagakan konsumen terhadap suatu produk imitasi jenis fashion juga dapat turut dibentuk oleh sekumpulan persepsi mereka terhadap atribut produk imitasi jenis fashion yang mereka rasakan.

Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk meneliti bagaimana pengaruh penawaran produk imitasi jenis fashion terhadap keputusan pembelian konsumen di pasar eceran dengan judul “Pengaruh Penawaran Produk Imitasi Jenis Fashion terhadap Proses Keputusan Pembelian Konsumen pada Konsumen Pasar Eceran Pekanan Gasibu Kota Bandung”

1.2. Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah
Salah satu fenomena yang cukup menarik perhatian penulis dan mungkin pula menarik perhatian banyak orang yaitu fenomena peredaran produk-produk imitasi –barang palsu- sebagai sebuah alternatif baru dalam pilihan konsumsi konsumen Indonesia

Hal ini semakin masuk akal ketika ada sebuah argumen bahwa produk imitasi dapat menawarkan produknya dengan kualitas hampir menyamai bahkan sama dengan produk aslinya dengan harga yang jauh dibawah harga produk asli, disebabkan produsen produk imitasi dapat memangkas banyak biaya yang seharusnya harus dikeluarkan oleh para produsen produk asli.

Pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung merupakan salah satu contoh sentra perdagangan produk imitasi di Kota Bandung setelah Pasar Baru dan Dalem kaum. Pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung merupakan salah satu pasar yang dikunjungi konsumen dalam jumlah yang relatif besar walaupun pasar ini hanya ada setiap hari minggu. Dari sebuah sumber pengunjung pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung tiap pekannya diperkirakan mencapai 10.000 orang yang berasal dari seluruh pelosok Kota Bandung hingga Kotif Cimahi, Kabupaten bandung, dan Kabupaten Sumedang.

Hal yang menarik lainnya adalah hal apa yang membuat banyak orang yang mengunjungi pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung tiap pekannya? Apakah karena faktor produk yang ditawarkan disana memiliki variasi produk yang banyak? atau karena harga produk yang ditawarkan disana relaitif dibawah harga normal yang berlaku? atau tempat penjualan dimana terdapat korelasi antara olah raga pagi dengan berbelanja? atau hanya sebuah trend untuk mengunjungi Gasibu tiap hari minggu?

Kembali ke masalah perilaku pembelian konsumen, untuk memahami pola perilaku pembelian konsumen yang unik ini, maka kita akan membahasnya melalui sudut pandang atribut-atribut program pemasaran sebuah produk (marketing mix). Kemudian fenomena ini akan dihubungkan dengan proses keputusan pembelian konsumen, untuk nantinya akan dapat diketahui pengaruh antara dua variabel tersebut.

Dari uraian diatas, penulis dapat merumuskan masalah-masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengetahuan konsumen yaitu konsumen pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung mengenai maraknya penawaran produk-produk imitasi jenis fashion di pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung.
2. Bagaimana tanggapan konsumen yaitu konsumen pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung mengenai maraknya penawaran produk-produk imitasi jenis fashion di pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung
3. Seberapa besar pengaruh penawaran produk-produk imitasi tersebut terhadap proses keputusan pembelian produk fashion pada konsumen pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung.

TINJAUAN PELAKSANAAN SALURAN DISTRIBUSI DALAM UPAYA MENINGKATKAN PENJUALAN PADA CV. AL – FATH PRODUCTION BANDUNG (PM-18)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, memiliki dampak yang luas disegala bidang. Salah satu bidang yang paling terkena dampaknya adalah sektor perekonomian. Bidang perekonomian memegang peranan penting dalam menunjang bidang – bidang yang lainnya, baik itu dalam aspek sosial, politik, pemerintahan, pertahanan dan keamanan serta kesejahteraan masyarakat.

Sebuah negara yang memiliki sistem perekonomian yang kuat akan mampu bersaing dengan negara – negara maju lainnya didunia. Indonesia sebagai negara yang kaya dan potensial akan sumber daya alamnya, harus dikelola dengan baik sehingga mampu menunjang bidang perekonomian. Dewasa ini perkembangan sektor perekonomian di Indonesia khususnya dunia usaha, baik yang dikelola pihak pemerintah maupun swasta sudah menunjukan hasil yang cukup menggembirakan, terutama perkembangan perekonomian Indonesia pasca kirisis.
Perusahaan sebagai pelaku dunia usaha dituntut harus mampu mengembangkan suatu rencana strategis pengembangan usaha terutama dalam menyikapi persaingan yang terjadi, untuk mencapai tujuan dan sasaran perusahaan dalam skala jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.

Untuk mencapai tujuan tersebut disadari bahwa tujuan pemasaran sangat diperlukan yaitu untuk membuat perusahaan memperoleh apa yang menjadi tujuan perusahaan.

Merancang sistem saluran distribusi dalam aspek strategi pemasaran adalah hal yang penting dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, yang mana strategi pemasaran merupakan cara untuk mengetahui faktor-faktor yang dikendalikan dan yang tidak dapat dikendalikan agar dapat memperoleh keunggulan bersaing, meningkatkan volume penjualan dan laba perusahaan yang maksimal. Strategi pemasaran mempunyai peran yang sangat penting untuk keberhasilan perusahaan umumnya dan dibidang pemasaran khususnya. Disamping itu saluran strategi pemasaran harus dapat memberi gambaran yang jelas dan terarah tentang apa yang akan dilakukan perusahaan dalam menggunakan kesempatan atau peluang pada beberapa pasar sasaran.

Salah satu prioritas dalam penentuan strategi pemasaran perusahaan adalah dalam aspek penentuan saluran distribusi pemasaran produk. Karena perusahaan yang mampu menerapkan dan mengembangkan strategi saluran distribusi pemasaran yang tepat, dapat menghasilkan volume penjualan produk yang optimal, sehingga menghasilkan laba dan mendatangkan keuntungan bagi perusahaan.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang masalah pelaksanaa strategi saluran distribusi produk pada CV. Al-Fath Production Bandung. CV. Al-Fath Production Adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi dan distribusi produk fashion, printing, Accesories, souvenir, dll. Penulis akan mencoba membahas mengenai pelaksanaan saluran distribusi yang diterapkan perusahaan dengan judul :
“TINJAUAN PELAKSANAAN SALURAN DISTRIBUSI DALAM UPAYA MENINGKATKAN PENJUALAN PADA CV. AL-FATH PRODUCTION BANDUNG

1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka masalah yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:
1. Apa tujuan pelaksanaan saluran distribusi pemasaran dalam upaya meningkatkan volume penjualan pada CV. Al – Fath Production di Bandung
2. Bagaimana pelaksanaan saluran distribusi pemasaran dalam upaya meningkatkan volume penjualan pada CV. Al – Fath Production di Bandung
3. Faktor-faktor apa saja yang mendukung pelaksanaan saluran distribusi pemasaran dalam upaya meningkatkan volume penjualan pada CV. Al – Fath Production di Bandung
4. Hambatan-hambatan apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan saluran distribusi pemasaran dalam upaya meningkatkan volume penjualan pada CV. Al – Fath Production di Bandung

PELAKSANAAN PROMOSI DALAM UPAYA MEMELIHARA LOYALITAS PELANGGAN PADA PT.INDOSAT Tbk. CABANG BANDUNG (PM-17)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan perekonomian di negara Indonesia saat ini, juga pengaruh dari perkembangan teknologi yang menyebabkan perusahaan dalam perkembangannya dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif, sehingga membuat semakin ketatnya persaingan dalam dunia bisnis, dengan semakin ketatnya tingkat persaingan maka dibutuhkan pula fungsi pemasaran yang baik, sehingga tujuan yang di harapkan oleh perusahaan akan tercapai, karena pemasaran perupakan pilar utama yang penting dalam kelangsungan hidup perusahaan.

Perusahan yang unggul adalah mereeka yang dengan tangkas menyiasati perubahan bisnis dan dapat memanfatkan peluang-peluang yang ada, serta mereka yang berhasil memberikan kepuasan bagi pelanggannya, tentunya dengan sesuatu yang hal yang efektif dan efisien, salah satunya melalui komunikasi secara baik bagi pelanggannya, sehingga hubungan antara produsen atau perusahan dengan pelanggannya akan semakin erat dan harmonis.

Perusahaan membutuhkan komunikasi dengan pelanggannya yaitu dengan cara melakukan promosi, semakin gencar perusahaan melakukan promosi maka akan semakin dekat di benak pelanggannya. Oleh karena itu banyak perusahan yang berani mengeluarkan anggaran yang cukup besar untuk biaya promosi. Media atau alat promosi yang sering dilakukan perusahaan antara lain melalui: periklanan, Penjualan Personal, Pemasaran Langsung, Hubungan Masyarakat, dan Promosi Penjualan, Alat alat promosi tersebut dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan dari perusahaan itu sendiri.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang masalah promosi dalam upaya mempertahankan loyalitas pelanggan pada PT.Indosat Tbk. Cabang Bandung yang merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa telekomunikasi, penulis akan mencoba membahas mengenai promosi khususnya produk jasa telekomunikasi yang diterapkan perusahaan dengan judul :
“PELAKSANAAN PROMOSI DALAM UPAYA MEMELIHARA LOYALITAS PELANGGAN PADA PT. INDOSAT Tbk. CABANG BANDUNG”.

1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah-masalah pokok sebagai berikut :
1.) Apa tujuan pelaksanaan promosi pada PT. Indosat Tbk cabang Bandung
2.) Bagaimana pelaksanaan promosi dalam upaya memelihara loyalitas pelanggan pada PT. Indosat Tbk cabang Bandung
3.) Faktor faktor yang Mendukung pelaksanaan promosi dalam upaya memelihara loyalitas pelanggan pada PT. Indosat Tbk cabang Bandung
4.) Faktor faktor yang menghambat pelaksanaan promosi dalam upaya memelihara loyalitas pelanggan pada PT. Indosat Tbk cabang Bandung

SIRKULASI KERJA HOUSEKEEPING DI KARTIKA HOTEL PONTIANAK (PM-16)

BAB I PENDAHULUAN

Dunia kepariwisataan dewasa ini sedang mendapat perhatian dan sorotan yang sangat meningkat di berbagai negara maupun di berbagai dunia, hal ini terbukti dengan banyaknya dibangun biro-biro jasa, hotel-hotel/penginapan-penginapan, obyek-obyek wisata, sehingga banyak para pengunjung yang ingin menggunakan fasilitas tersebut. Jadi tak heran lagi bila banyak negara-negara yang berusaha ingin mengembangkan dunia kepariwisataannya.
Dalam kegiatannya sebagai seorang karyawan, khususnya karyawan hotel hendaknya dapat memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya agar para tamu yang berkunjung mendapat kepuasan tersendiri serta mempunyai kesan yang baik bila pulang ke negaranya. Hal ini tidak terlepas dari sarana dan prasarana yang ada, antara lain misalnya :
Pelayanan penginapan/perhotelan, lokasi, alat-alat yang dipergunakan (sebab sektor perhotelan merupakan salah satu sarana pokok dalam pengelolaan Industri Pariwisata).
Hotel adalah merupakan suatu perusahaan yang menyediakan jasa dalam bentuk penginapan serta menyajikan segala makanan dan minuman serta fasilitas lainnya yang dijual secara teru-menerus.

Karena hotel bergerak dibidang jasa, maka pengelolaannya harus berdasarkan suatu bentuk organisasi yang gunanya untuk mempermudah dalam mempertanggung jawabkan setiap kegiatan dari departemen yang ada di hotel tersebut. Disamping itu untuk menetapkan masing-masing tugas dari setiap departemen, agar terjalin kerjasama yang baik antara departemen yang satu dengan departemen lainnya, begitu pula dengan para karyawannya.

A. Latar Belakang Masalah
Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa, sebuah hotel berusaha untuk mewujudkan yang sebesar-besarnya keuntungan, untuk itu dituntut untuk mengutamakan kualitas pelayanan kepada para tamunya. Apabila kita memberikan pelayanan yang baik, maka para tamu jugalah yang akan menjadi alat promosi yang baik bagi hotel tersebut. Sehingga pihak hotel dapat meraih keuntungan dengan datangnya para pelanggan baru. Untuk mencapai tujuan tersebut maka sebagai seorang karyawan hotel hendaknya dituntut untuk menjadi tenaga yang profesional.

Untuk memperoleh tenaga kerja yang profesional, pada saat ini banyak didirikan Akademi-akademi yang memiliki jurusan Perhotelan. Begitu pula banyak didirikan kursus-kursus profesi yang memiliki jurusan tersebut. Untuk menjadi tenaga kerja profesional tersebut, selain dari pelajaran di bangku kuliah,

diadakan juga On The Job Training di Hotel berbintang. Dengan demikian dapat mempraktekkan langsung ilmu yang didapat dari bangku kuliah.
Atas dasar uraian tersebut di atas, maka penulis akan membahas salah satu departemen yang ada di Kartika Hotel Pontianak, dengan mengambil judul : "SIRKULASI KERJA HOUSEKEEPING DI KARTIKA HOTEL PONTIANAK".

PENGARUH PERKEMBANGAN JUMLAH PELANGGAN kartuHALO MELALUI PROGRAM HALObebas TERHADAP TINGKAT PEMAKAIAN PULSA RATA-RATA PELANGGAN kartuHALO (PM-15)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Industri telekomunikasi selular nasional dewasa ini mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dan mengakibatkan tingkat kompetisi yang sangat tinggi. Regulasi pemerintah yang mendasari diberikannya lisensi kepada beberapa operator baru membuat kompetisi antar operator selular menjadi sangat terbuka. Operator-operator selular berbasis GSM (Global System for Mobile Communication) yang selama ini menguasai pasar harus menyiapkan strategi pemasaran yang lebih efektif dan efisien. Hal tersebut dikarenakan operator-operator selular berbasis CDMA (Code Division Multiple Access) telah meramaikan persaingan dalam industri ini dengan potensi pengembangan teknologi yang lebih menjanjikan jika dibandingkan dengan teknologi GSM. Kondisi ini mengakibatkan setiap operator harus mampu mengeksploitasi pasar potensial yang ada di industri ini hingga pencapaian optimal demi menjaga kelangsungan hidupnya.

Sejarah operator selular di Indonesia berawal pada pertengahan tahun 1993 yang ditandai dengan hadirnya PT. Satelindo sebagai operator selular GSM pertama di Indonesia. PT. Telekomunikasi Selular menjadi operator selular kedua di Indonesia yang berdiri pada bulan Mei 1995 dengan menggunakan merek dagang Telkomsel. PT. Excelcomindo Pratama pada bulan Oktober 1996 menyusul dengan menggunakan merek dagang XL. PT. Indosat yang menggunakan merek dagang IM3 (Indosat Mobile Multi Media) ikut meramaikan persaingan dalam industri ini pada tahun 2001. Tahun 2002 PT. Satelindo resmi diambil alih oleh PT. Indosat. Operator-operator selular berbasis CDMA kemudian menyusul yang diawali dengan kehadiran TelkomFlexi pada Desember 2002 sebagai merek dagang dari produk selular CDMA PT. Telekomunikasi Indonesia. PT. Bakrie Telecom menyusul dengan merek dagang Esia pada November 2003, yang kemudian diikuti dengan kehadiran Fren sebagai merek dagang PT. Mobile-8 Telecom pada Desember 2003. PT. Indosat menyusul dengan merek dagang StarOne pada bulan Mei 2004.
Persaingan bisnis selular yang ketat membuat para operator selular harus terus berinvestasi guna memperluas jaringannya. Hal tersebut mutlak harus dilakukan oleh tiap operator karena potensi yang dimiliki bisnis ini sangat besar mengingat pangsa pasar yang besar dengan keadaan geografis dan struktur demografis yang sangat membutuhkan teknologi komunikasi yang memadai untuk mengakomodasi kebutuhan sosial dan ekonomi masyarakat. Berdasarkan data yang penulis peroleh dari website majalah SWA pada tanggal 15 April 2005 dapat diketahui bahwa untuk tahun 2005 PT. Telekomunikasi Selular menganggarkan dana sebesar US$ 600 juta untuk perluasan dan peningkatan kualitas jaringannya. PT. Indosat menganggarkan sebesar US$ 640 juta, sementara PT. Excelcomindo Pratama menyiapkan dana sebesar US$ 250 juta. Anggaran yang disiapkan PT. Telekomunikasi Indonesia adalah sebesar Rp. 1,7 trilyun, PT. Bakrie Telecom menganggarkan sebesar US$ 500 juta, dan yang terakhir PT. Mobile-8 Telecom sebesar US$ 400 juta.

Berdasarkan data yang penulis peroleh dari website yang sama pada tanggal yang sama dapat diketahui bahwa tingkat pertumbuhan pelanggan selular nasional sangat tinggi dimana pada akhir tahun 2000 jumlah pelanggan selular nasional tercatat sebanyak 3.600.000 pelanggan. Pada akhir tahun 2001 jumlah pelanggan berkembang hingga mencapai 6.200.000 pelanggan dan pada akhir tahun 2002 tercatat sebanyak 11.300.000 pelanggan. Akhir tahun 2003 jumlah pelanggan selular mencapai 18.400.000 pelanggan, dan pada akhir tahun 2004 jumlahnya telah mencapai 32.400.000 pelanggan selular. Proyeksi jumlah pelanggan selular nasional yang dilakukan menunjukkan potensi besar industri ini dimana proyeksi jumlah pelanggan selular pada akhir tahun 2005 mencapai 40.000.000 pelanggan. Akhir tahun 2006 jumlahnya akan berkembang menjadi 50.200.000 pelanggan, dan pada akhir tahun 2007 jumlahnya akan berkembang hingga 72.500.000 pelanggan selular. Proyeksi jumlah pelanggan pada akhir tahun 2008 adalah sebesar 80.300.000 pelanggan dan pada akhir tahun 2009 jumlahnya akan menjadi 82.100.000 pelanggan.

Industri ini memiliki dua jenis produk yang secara langsung memisahkan pelanggan menjadi dua kategori, yaitu pelanggan pascabayar dan pelanggan prabayar. Perbedaan produk pascabayar dan prabayar adalah pada proses aktivasi, metode pembayaran pulsa, dan data pelanggan. Proses aktivasi nomor pascabayar memerlukan data pelanggan secara lengkap, kemudian proses aplikasi, registrasi, dan verifikasi. Hal tersebut tidak perlu dilakukan pada produk prabayar karena pada produk ini pelanggan dapat melakukan aktivasi sendiri sesuai petunjuk yang tertera pada paket perdana produk tersebut tanpa harus memenuhi persyaratan administrasi.

Sedangkan metode pembayaran pulsa pada produk prabayar hanya dengan melakukan pembelian voucher dengan nominal yang bervariasi tergantung kemampuan dan kebutuhan. Pelanggan pascabayar dalam melakukan pembayaran pulsa tergantung kepada tagihan bulanan yang dikirimkan operator sesuai dengan pemakaian yang dilakukan pelanggan pada bulan tersebut, sehingga kelengkapan data-data pelanggan memiliki arti penting.
Pada perkembangannya, jenis produk pascabayar hingga tahun 2000 mendominasi komposisi jumlah pelanggan selular hingga mencapai 70% dari total pelanggan selular di Indonesia. Namun pada tahun 2004 komposisi tersebut berubah drastis hingga hanya memperoleh 13% dari total pelanggan selular. Minat masyarakat yang sangat tinggi terhadap kartu prabayar membentuk komposisi pelanggan prabayar yang sangat dominan (87%) terhadap komposisi pelanggan pascabayar.

Jumlah pelanggan pascabayar yang sangat kecil jika dibandingkan pelanggan prabayar tersebut membuat pihak manajemen Telkomsel mempertimbangkan suatu strategi untuk menarik minat calon pelanggan potensial, karena selama ini pascabayar identik dengan tingkat segmentasi pasar premium. Pada bulan April 2004 Telkomsel meluncurkan program HALObebas dimana program ini memberikan tiga pilihan paket, yaitu paket bebas roaming nasional, paket bebas 150 SMS per bulan, dan paket bebas abonemen. Strategi ini menjawab keinginan pasar potensial yang ingin berlangganan kartu pascabayar sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan perilaku komunikasinya.
Program ini menunjukkan keberanian Telkomsel untuk mendobrak paradigma yang sebelumnya berlaku bahwa pelanggan kartu selular pascabayar hanya untuk pelanggan segmen atas. Strategi pengembangan pasar ini menegaskan kembali bahwa Telkomsel adalah pemimpin pasar yang tidak pernah berhenti mengeksplorasi potensi yang dimiliki oleh produknya dalam meningkatkan jumlah pelanggannya dan terus berusaha mempertahankan pelanggan yang selama ini telah memberikan kepercayaan kepada Telkomsel.

Penulis terdorong untuk melakukan penelitian terhadap strategi pengembangan pasar yang dilakukan Telkomsel tersebut untuk melihat pengaruh program HALObebas terhadap tingkat pemakaian pulsa rata-rata pelanggan kartuHALO. Penulis merasa perlu untuk melakukan penelitian ini karena penulis ingin mengetahui apakah suatu strategi pengembangan pasar yang dilakukan perusahaan selalu berdampak positif terhadap perusahaan tersebut dalam sudut pandang tingkat penggunaan produk. Oleh karena itu, penulis mengajukan judul skripsi: “Pengaruh Perkembangan Jumlah Pelanggan kartuHALO Melalui Program HALObebas Terhadap Tingkat Pemakaian Pulsa Rata-rata Pelanggan kartuHALO (Studi Kasus di Telkomsel GraPARI Jakarta Barat)”.

B. Pembatasan Masalah
Penulis menetapkan fokus penelitian ini adalah pada produk selular GSM pascabayar kartuHALO Telkomsel dimana pembatasan masalahnya adalah dampak program HALObebas terhadap kinerja Telkomsel GraPARI Jakarta Barat agar tidak terjadi pembahasan masalah di luar pokok pembahasan seperti yang telah penulis ungkapkan.

C. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka permasalahannya dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah perkembangan jumlah pelanggan kartuHALO Telkomsel melalui program HALObebas berpengaruh positif terhadap tingkat pemakaian pulsa rata-rata pelanggan (ARPU: Average Revenue Per User) kartuHALO Telkomsel wilayah Jakarta Barat.
2. Seberapa kuat pengaruh perkembangan jumlah pelanggan kartuHALO Telkomsel melalui program HALObebas terhadap tingkat pemakaian pulsa rata-rata pelanggan (ARPU) kartuHALO Telkomsel wilayah Jakarta Barat.

ANALISIS PENGARUH DIFERENSIASI PRODUK TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PADA TOKO DUA MOTOR BITUNG (PM-14)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Globalisasi ditandai dengan dimulainya era perdagangan yang tidak mengenal batas batas negara. Perubahan terjadi pada tingkat yang semakin cepat dibandingkan sebelumnya. Kekuatan Global akan terus mempengaruhi kehidupan masyarakat dunia. Teknologi akan terus mengagumkan kita dan melakukan hal hal yang tidak terpikirkkan sebelumnya yang mengakibatkan tidak ada pembatasan-pembatasan yang dapat melindungi kepentingan perdagangan suatu negara dengan negara lain. Semakin banyak orang, semakin banyak negara. Perusahaan perusahaan bebas memutuskan apa yang harus dibuat dan dijual, sehingga strategi bisnis sekarang akan beresiko, demikian juga halnya bila beralih ke strategi bisnis yang baru.

Untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat sangat dibutuhkan manajemen yang handal dan mampu mengantisipasi pada setiap persaingan yang dapat menjalankan perusahaan secara efektif dan efisien. Dengan demikian, maka seorang dituntut untuk dapat memanfaatkan secara tepat sumber daya ekonomi yang ada dalam perusahaan sehingga dapat menghasilkan pengembalian yang maksimal atas pemakaian sumber daya ekonomi.

Berbagai usaha untuk menciptakan produk yang unggul dalam kegiatan pemasaran, perusahaan membutuhkan suatu strategi untuk mempengaruhi pasar dengan cara mencari peluang usaha baik dalam bentuk produk maupun dalam bentuk jasa pelayanan, dengan demikian hal ini memungkinkan perusahaan untuk menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih baik dari sebelumnya dan lebih baik dari produk saingannya, agar dapat menarik konsumen pada umumnya, khususnya pemakai produk tersebut dan tentunya dapat memenuhi kepuasan konsumen sebagai pemakai atau konsumen yang menggunakan produk tersebut.

Perusahaan perusahaan dewasa ini berusaha keras untuk mendapatkan posisi terkemuka di pasar, daripada harus menerima posisi di peringkat ke dua di pasar, maka perusahaan perusahaan menekankan untuk mempertahankan pelanggan dan bukan sekedar mendapatkan pelanggan yang baru. Perusahaan juga harus memperluas bauran tawaran mereka dalam upaya untuk mendapatkan pangsa pelanggan serta bukan sekedar pangsa pasar. Selain itu perusahaan harus mengidentifikasi pelanggan. mereka yang mampu menghasilkan laba dan memberikan layanan istimewa, perusahaan harus mendasarkan keputusan mereka pada nilai masa hidup pelanggan dan bukan pada maksimasi laba saat ini.

Perusahaan harus, menyadari bahwa pelanggan saat ini menemukan banyak sekali produk dalam berbagai kombinasi barang dan jasa pada tingkat harga tertentu, serta harapan mereka akan mutu dan pelayanan yang terus meningkat. Di tengah pilihan yang begitu banyak, pelanggan. cenderung memilih tawaran yang paling sesuai dengan kebutuhan serta harapan masing masing. Mereka membeli berdasarkan pandangan nilai mereka, karena itu tidak heran bahwa perusahaan yang unggul pada masa kini adalah perusahaan yang berhasil memuaskan bahkan menyenangkan pelanggan sasaran mereka.
Berdasarkan perubahan yang mendasar cara pemikiran pemasaran adalah beralihnya paradigma dari penjualan menjadi penciptaan pelanggan.

Pemasaran dahulu berwawasan transaksi, sekarang lebih berwawasan hubungan. Dalam mencermati keberadaan, setiap perusahaan harus menyadari bahwa mereka telah menghadapi kekuatan persaingan yang amat tajam, karena saat ini di mana pasar telah berubah menjadi buyers markets, kekuatan pasar yang berada di tangan pembeli, perusahaan cenderung harus memperhatikan segala kebutuhan, kepuasan dan selera konsumen oleh sebab itu, para pemasar harus dapat mengatasi permasalahan yang timbul akibat dari keinginan, persepsi, referensi, perilaku belanja serta faktor gaya hidup pelanggan sasaran mereka. Selain itu pemasar juga harus memahami berbagai pengaruh yang timbul dan kebijakan atau strategi yang ditujukan terhadap para pembeli dan pengembangan suatu pemahaman mengenai bagaimana sebenarnya para konsumen membuat keputusan untuk membeli produk tersebut.

Persaingan semakin ketat, sebagai suatu tantangan serta motivasi untuk mencapai target yang direncanakan. Pada dasarnya keberhasilan suatu perusahaan di dalam memproduksi dan memasarkan produknya, sangat ditentukan oleh ketepatan strategi yang dipakai oleh perusahaan adalah penerapan kebijakan diferensiasi produk yang merupakan suatu usaha pembedaan yang bersifat khusus terhadap berbagai produk yang dihasilkan.

Dengan semakin banyaknya perusahaan yang menghasilkan produk sejenis, juga berbagai perusahaan jasa yang menyajikan layanan serupa, keberhasilan perusahaan dalam memasarkan produknya ditentukan melalui proses riset pasar yang relevan yang mampu mengidentifikasi peluang untuk memudahkan dalam menentukan strategi pemasaran.
Diferensiasi produk adalah bagaimana perusahaan menawarkan produk perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif (memiliki sesuatu yang lebih baik), unik untuk membedakan tawaran perusahaan dengan tawaran pesaing. Dengan demikian dapat memaksimalkan total penjualan sebagai dasar memasuki dan memenangkan persaingan.
Toko M. Three Motor adalah salah satu toko yang menjual spare parts, melayani servis/perbaikan ringan kendaraan beroda dua, tetapi lebih menfokuskan diri untuk memberikan jasa modifikasi motor, bagi mereka para pecinta motor (Bikers). Saat ini sepeda motor lebih dari sekedar alat transportasi sehari-hari. Bagi banyak orang, sepeda motor adalah hobby, entah itu berupa kegemaran untuk melakukan balapan, atraksi, adventur, hingga modifikasi. Bagi orang-orang ini sepeda motor adalah kawan, teman berekreasi dan berbagai pengalaman. Bahkan tidak jarang mereka memperlakukan kendaraannya ini seperti layaknya sahabat dalam menguji segala potensi diri.Bagi mereka motor tidak hanya sekedar kuda besi, karena akan berakhir di sana. Bagi para Bikers mereka tidak hanya menservicesnya bila sakit, tapi juga merawatnya (maintainance) agar gagah dan juga fit. Atas dasar inilah pihak perusahaan berusaha sebaik mungkin menyediakan barang-barang untuk keperluan modifikasi (sesuai dengan keinginan dan pesanan konsumen), yang sedang trend di dunia otomotif saat ini.

Adapun perkembangan volume penjualan produk modifikasi tahun 2001 – 2005 tampak dalam tabel 1.1.
Tabel 1.1. Perkembangan Volume Penjualan Produk Modifikasi Tahun 2001 – 2005
No. Jenis Produk Volume Penjualan (Dalam Unit)
2001 2002 2003 2004 2005
1. Fairing - 10 11 25 43
2. Ban luar - 9 13 17 25
3. Velg 2 6 8 10 17
4. Knalpot 84 97 138 164 284
5. Delta Box 5 11 30 37 40
6. Shock mono 4 10 12 12 15
7. Peninggi shock - - 14 25 52
8. Kaca spion 50 68 126 225 254
9. Baut Body L - - 350 426 474
10. Tutup Baut - - - 315 340
11. Kulit Sadel - - - 15 55
12. Shock Absobers Tabung 12 19 20 25 28
Total (%) 157 230 (146) 722 (314) 129 (180) 1627 (126)
Sumber : Toko Dua Motor Bitung
Dalam Tabel 1.1. memberikan gambaran mengenai keberadaan produk modifikasi motor yang dinyatakan dalam satuan unit di mana volume penjualan tahun 2001 – 2005 untuk masing-masing produk mengalami kenaikan. Untuk beberapa produk (yang belum tersedia di tahun sebelumnya), adalah merupakan produk keluaran terbaru. Kondisi di atas memberikan peluang bagi perusahaan untuk lebih meningkatkan volume penjualan dengan berbagai upaya kegiatan pemasaran yang lebih efektif untuk mendapatkan hasil yang lebih baik di tahun-tahun berikutnya.
M. Three Motor juga memberikan beberapa fasilitas tambahan bagi para konsumen yang menggunakan jasa modifikasi sepeda motor antara lain :
1. Ruangan Full Music
Konsumen yang datang dapat menikmati lagu-lagu pilihan yang disediakan, dilengkapi juga dengan sound system yang canggih untuk menambah kenyamanan pada saat menunggu sepeda motor yang dimodifikasi ataupun melakukan service.
2. TV satelit
Konsumen juga dapat menikmati tontonan yang menarik dengan berbagai macam saluran, baik lokal maupun mancanegara. Untuk waktu tertentu pihak perusahaan menjadwalkan kegiatan nonton bareng pertandingan sepak bola, grand prix, untuk menciptakan suasana kekeluargaan dan menjalin hubungan dengan para konsumen
3. Mini café
Untuk lebih memanjakan konsumen, di sudut lain dalam toko ini disediakan pula beraneka ragam jenis minuman ringan, teh, kopi dan ice cream yang dapat dinikmati sembari bersantai.

4. Aneka Bacaan
Perusahaan menyediakan berbagai macam majalah, tabloid dan koran serta untuk menambah wawasan dan pengetahuan konsumen tentang perkembangan dunia otomotif.
Melalui penerapan kebijakan diferensiasi produk maka perusahaan dapat membedakan produk mereka dengan produk pesaing, sehingga akan membuka suatu peluang terciptanya permintaan baru; Oleh sebab itu perusahaan harus mampu bersaing dalam menawarkan produknya menjadi yang terbaik dan berbeda dari produk pesaing. Berdasarkan latar belakang diatas maka akan dilakukan penelitian tentang pengaruh diferensiasi produk terhadap kepuasan konsumen pada Toko Dua Motor Bitung.

1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan maka permasalahan utamanya yaitu :
“Bagaimana pengaruh diferensiasi produk terhadap kepuasan konsumen pada Toko Dua Motor Bitung? ”

PERSEPSI TARGET AUDIENCE TERHADAP BRAND IMAGE DALAM IKLAN YANG MENGGUNAKAN CELEBRITY ENDORSER (pm-12)

BAB I
PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang Permasalahan

Keberadaan selebriti atau orang – orang terkenal memberi dampak dalam berbagai segi kehidupan manusia, dari waktu ke waktu. Popularitas selebriti memang tak dapat dipungkiri menjadi suatu fenomena tersendiri karena menjadi salah satu fokus publisitas di berbagai media cetak dan media elektronik, dan bahkan kehidupan pribadinya sangat ditunggu para insan pers sebagai headline berita.

Saat ini dalam berbagai iklan khususnya untuk produk baru, penggunaan selebriti sebagai salah satu strategi pemasaran, sangat efektif untuk membentuk stopping power bagi audience. Kehadiran selebriti dimaksudkan untuk mengkomunikasikan suatu merk produk dan membentuk identitas serta menentukan citra produk yang diiklankan. Pemakaian selebriti sebagai daya tarik iklan (advertising appeals), dinilai dapat mempengaruhi preferensi konsumen karena selebriti dapat menjadi reference group yang mempengaruhi prilaku konsumen.
Bagi produk baru, penggunaan endorser atau pembicara merupakan upaya pengiklan untuk meraih publisitas dan perhatian (attention getting power) produk tersebut. Meskipun mereka adalah aktor, selebriti, eksekutif, atau kepribadian yang diciptakan, endorser terbaik adalah mereka yang bisa membangun brand image yang kuat. Sebuah riset mengatakan bahwa selebriti yang cocok akan menaikkan nilai perhatian dan persuasi .
Keberhasilan upaya membangun brand image ini sangat ditentukan oleh persepsi konsumen terhadap selebriti yang menjadi icon produk tersebut. Dengan dipersepsikannya seorang celebrity endorser secara positif oleh masyarakat, diharapkan positif pula brand image yang terbentuk di benak konsumen. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan munculnya brand image dalam pikiran konsumen yang tidak relevan dengan persepsinya terhadap celebrity endorser. Dengan kata lain, tidak selamanya seorang celebrity endorser dalam iklan dapat membangun brand image yang relevan dalam benak konsumen, seperti yang diinginkan pengiklan.
Life's Good (LG) telah meluncurkan ponsel terbaru yang bisa mengakses seluruh fasilitas 3G yang baru saja diluncurkan oleh salah satu operator selular terbesar di Indonesia yaitu Telkomsel dan diikuti oleh XL. Kehadiran ponsel LG tipe terbaru yakni KG 300 ini, dipasarkan di lego Rp 1.600.000,00. Produk ini akan melengkapi ponsel berfasilitas 3G, setelah Nokia, Sony Ericsson, dan Motorola. Produk yang diluncurkan sekitar bulan Januari - Februari ini memungkinkan para penggemar 3G memiliki banyak pilihan untuk menggunakan ponsel sesuai fasilitas yang disediakan. Apalagi saat ini penggemar dari 3G kian besar di beberapa kota besar di Indonesia, sementara ketersediaan ponsel masih terbatas karena belum semuanya ponsel bisa mengkover fasilitas 3G. Dengan demikian peluncuran ponsel LG KG 300 ini diharapkan dapat direspon besar oleh pasar ponsel di Indonesia.
Dalam penelitian ini, peneliti memilih iklan ponsel LG KG 300 yang menggunakan Agnes Monica sebagai celebrity endorser. Dalam iklan tersebut Agnes Monica menjelaskan semua fitur yang ada dalam ponsel tersebut, dan bagaimana ponsel itu memberikan kenyamanan dalam keseharian Agnes.
Iklan ponsel LG KG 300 digunakan sebagai studi kasus dengan alasan utama yaitu produk ini merupakan produk baru. Seperti yang diungkapkan sebelumnya, produk baru memerlukan publisitas dan perhatian untuk membangun image-nya. LG sendiri termasuk brand yang pangsa pasarnya berada di bawah brand-brand ponsel lain, seperti Nokia, Sony Ericsson, Motorola, dan Samsung. Posisi ponsel LG yang demikian inilah yang mendorong pengiklan menggunakan seorang endorser yang tingkat awarenessnya tinggi di mata publik. Ini menjadi alasan peneliti memilih ponsel LG KG 300 sebagai objek penelitian.
Sebagai selebriti, Agnes Monica memiliki tingkat popularitas tinggi di mata publik. Hal ini terlihat dari penggunaan Agnes dalam banyak iklan dan dianggap sebagai the next diva dalam dunia tarik suara. Agnes Monica merupakan ikon remaja yang terkenal memiliki image kuat dimata masyarakat. Dengan image Agnes yang demikian, maka ponsel LG menggunakan Agnes sebagai endoser dengan harapan image kuat Agnes juga mampu menguatkan image ponsel LG sebagai produk baru di pasar.


1. 2. Permasalahan

Sebagai reference group, atau sebagai inspirator, selebriti pada umumnya dapat mempengaruhi sikap, perilaku bahkan gaya berpakaian para penggemarnya. Apalagi, tak sedikit penggemar yang ingin mengikuti karakteristik idolanya, dan hal inilah yang dimanfaatkan oleh para pengiklan dalam memasarkan produknya.
Adanya perbedaan persepsi tiap-tiap individu akan seorang selebriti sebagai icon dalam iklan, dapat membentuk brand image yang berbeda pula pada tiap individu. Persepsi ini dapat mendukung, atau dapat juga menjatuhkan brand image. Dengan demikian dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
"Bagaimana image seorang celebrity endorser dapat membangun image positif produk ponsel LG KG 300 yang merupakan produk baru?"

ANALISA SIKAP KONSUMEN SUPERMARKET INDOGROSIR (PM-13)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pada masa sekarang ini, di abad 21, pola hidup masyarakat Indonesia semakin maju. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu pesat seiring dengan perkembangan jaman. Pengaruh perkembangan tersebut sangat nyata, misalnya terciptanya fasilitas-fasilitas yang memudahkan kegiatannya sejalan dengan perkembangan teknologi tersebut.

Salah satu dampak dari perkembangan teknologi tersebut adalah semakin banyak berkembang pasar swalayan ataupun supermarket, pusat pembelanjaan yang semakin banyak menawarkan kemudahan, kenyamanan dan keamanan bagi konsumen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara mudah dan efisien. Dengan banyaknya pusat perbelanjaan yang didirikan maka persaingan antar pusat perbelanjaan semakin tinggi, yang menyebabkan anggota masyarakat atau konsumen ingin dilayani lebih baik lagi, sesuai apa yang diinginkan bagi pemenuhan kebutuhan lainnya. Hal ini membuat beban pemasaran semakin berat, karena tugas dari pemasaran merupakan fungsi paling penting dari perusahaan. (Sofyan Assauri, 1992; 6)


Dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat, suatu perusahaan perlu memahami perilaku konsumen agar perusahaan mampu bersaing dengan perusahaan lainnya. Pemahaman tentang perilaku konsumen itu mempunyai arti penting karena sesungguhnya semua kegiatan perusahaan ditujukan untuk memberikan kepuasan kepada konsumen. Perusahaan retail tentunya sadar bahwa dalam era globalisasi pemasaran merupakan kunci dan faktor penting untuk mencapai sukses. Pemasaran memusatkan perhatian pada konsumen karena dengan tercapainya kebutuhan dan kepuasan konsumen akan memberikan keuntungan yang layak dalam jangka panjang. Tujuan kegiatan pemasaran itu sendiri adalah mempengaruhi konsumen untuk membeli barang dan jasa perusahaan pada saat itu yang mereka butuhkan. Sedangkan pemasaran menurut William J. Stanton (1985) didefinisikan sebagai berikut:
“Suatu sistem keseluruhan dari kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial.” (Stanton, 1985;7)

Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya (Philip Kotler,1995;46)
Harapan konsumen atau pembeli biasanya dibentuk oleh pengalaman pembelian terdahulu, komentar teman serta janji atau informasi pemasaran dan saingannya. Untuk memenuhi kebutuhan dan memberikan kepuasan tersebut, banyak usaha bisnis kecil-kecilan (usaha pertokoan) berubah menjadi usaha bisnis yang lebih besar (swalayan atau supermarket)
Supermarket merupakan took yang menyediakan kebutuhan-kebutuhan konsumen baik untuk jenis makanan dan non-makanan yang dijual secara rutin sehingga konsumen lebih mudah untuk memenuhi kebutuhannya.

Pada dasarnya sukses tidaknya suatu bisnis bergantung pada apakah kita cukup memberikan perhatian terhadap apa yang dibutuhkan dan diinginkan orang yang menjadi sasaran bisnis kita. Untuk itu seorang manajer harus selalu inovasi terus menerus dan menerapkan strategi yang menetap agar bsinis tersebut dapat berkembang dengan baik. Selain itu untuk meningkatkan kualitas dan memperluas permintaan pasar, manajer diharapkan mampu melaksanakan strategi marketing mix-nya. Sedangkan strategi marketing mix menurut Basu Swastha dan Irawan (1990) didefinisikan sebagai berikut:
“Strategi marketing mix adalah kombinasi dari empat kegiatan yang merupakan inti dari system pemasaran perusahaan, produk, struktur harga, kegiatan promosi, dan system distribusi. (Swastha dan Irawan, 1990; 78)”

Dalam kondisi perekonomian sekarang ini kegiatan pemasaran mempunyai peranan yang sangat sesuai dengan fungsi pemasaran yang merupakan salah satu fungsi pokok yang harus dilakukan oleh perusahaan untuk dapat berkembang dan mendapatkan laba yang maksimal.

Melihat pentingnya peranan sikap konsumen dalam mengambil keputusan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya agar dapat terpuaskan, maka penulis tertarik untuk membuat skripsi dengan judul: “ANALISA SIKAP KONSUMEN SUPERMARKET INDOGROSIR”

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana sikap konsumen terhadap Supermarket Indogrosir
2. Apakah ada perbedaan sikap antara konsumen akhir dan konsumen pedagang dalam belanja di Supermarket Indogrosir

Respon Konsumen Terhadap Mie Instan Produk Indofood (Studi Kasus di Pasar Atas Cimahi) (PM-11)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi dan bervariasi saat ini sudah semakin meningkat. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya produk-produk makanan yang dijual di pusat-pusat penjualan produk makanan. Kesadaran ini dipengaruhi oleh semakin majunya teknologi informasi di bidang pangan, sehingga masyarakat atau konsumen lebih aware terhadap segala perubahan yang ada. Perubahan-perubahan ini ternyata secara tidak langsung mengubah selera dan kebiasaan masyarakat akan produk pangan yang dikonsumsinya.

Kebiasaan masyarakat dalam mengkongsumsi produk pangan ini juga dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat yang sudah semakin dinamis dikarenakan tuntutan pekerjaan atau customer yang semakin tinggi. Kebutuhan hidup yang semakin tinggi menyebabkan masyarakat melakukan upaya-upaya yang lebih keras untuk menutupi kebutuhannya tersebut. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya seorang ibu rumah tangga yang ikut bekerja untuk membantu suami dalam mencari nafkah.
Seorang ibu rumah tangga yang ikut bekerja untuk membantu suami akan mengakibatkan berkurangnya waktu yang tersedia untuk menyiapkan kebutuhan keluarga. Hal ini bukan dianggap suatu kendala bagi suatu rumah tangga karena dengan semakin banyaknya anggota yang bekerja di luar, maka tingkat pendapatan keluarga pun akan turut meningkat. Kebutuhan-kebutuhan yang muncul, seperti kebutuhan konsumsi yang semakin tinggi dikarenakan keterbatasan waktu untuk keluarga tersebut tetap dapat dipenuhi oleh keluarga tersebut. Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi gaya atau cara konsumsi dari suatu keluarga khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.
Tingginya aktivitas masyarakat yang didorong oleh semakin tingginya kebutuhan masyarakat ini menyebabkan pola konsumsi pangan masyarakat berubah. Perubahan pola atau gaya hidup, juga menjadi faktor pemicu terjadinya perubahan pola konsumsi. Misalnya, orang zaman sekarang semakin sibuk dengan jam kerja lebih panjang, mendorong mereka untuk memilih makanan yang penyajiannya lebih praktis tapi tetap beragam. Perkembangan konsumsi makanan instan yang berbasis gandum ini dari tahun ke tahun memperlihatkan tren yang positif dan semakin berkembang. Hal ini diperlihatkan pada tabel 1 berikut ini :
Tabel 1. Perkembangan Tingkat konsumsi produk gandum/kapita/tahun
Daerah/makanan
Kota
1993
1996
1999
2002
Terigu (kg) 1,1 1,0 0,9 1,4
Mie instan (kg) 0,16 2,61 2,05 2,82
Mie basah (kg) - 0,3 0,2 0,3
Mie bakso/rebus/ goreng (porsi) - 28,5 26,2 26,7
Desa
Terigu (kg) 0,6 0,8 0,6 1,0
Mie instan (kg) 0,07 1,18 1,49 1,5
Mie basah (kg) - 0,2 0,1 0,2
Mie bakso/rebus/ goreng (porsi) - 13,6 12,7 13,2
Sumber: Data Susenas, 1993, 1996, 1999, 2002 (diolah)


Pergeseran pola konsumsi masyarakat ini ternyata berdampak positif terhadap industri makanan instan, terutama industri mie instan. Salah satu produsen mie instan terbesar di Indonesia saat ini adalah Indofood. Perusahaan ini menguasai hampir 80 % dari produksi mie instan di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, mie memang sudah menjadi bagian penting dalam pola makan rumah tangga, tidak hanya di perkotaan tetapi juga di pedesaan. Peran mie memang luwes, tidak hanya sebagai pangan pokok, tetapi dapat pula berperan sebagai lauk-pauk sehingga sering dijumpai masyarakat yang makan nasi dengan lauk mie goreng atau mie kuah.
Hal ini dimungkinkan karena mie dapat diproses dengan mudah, disajikan dengan praktis dan dapat memenuhi selera sebagian besar masyarakat, baik orang dewasa maupun anak-anak. Selain itu, variasi jenis makanan dari gandum ini sangat banyak, ada mie goreng, mie rebus, mie bakso, mie kering, dan mie instan. Jenis makanan asal gandum selain mie seperti roti dan kue juga tersedia dalam berbagai jenis dan bentuk. Promosi mie dengan berbagai jenis produk, ukuran dan harga sangat intensif di berbagai tempat sehingga produk mie baru cepat dikenal oleh masyarakat.
Berkembangnya bisnis di bidang makanan instan, merupakan keadaan yang mendukung kondisi permientaan mie instan di pasar domestik dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi permientaan mie domestik yang tinggi dan adanya orientasi ekspor ke pasar luar negeri telah menciptakan lahan investasi yang lebih terbuka lebar untuk industri pengolahan mie instan, termasuk perluasan modernisasi industri yang sudah ada. Diversifikasi produk dilakukan para produsen dalam rangka menyesuaikan dengan keinginan pasar sehingga tidak mengherankan jika pasar domestik mudah ditemukan berbagai produk mie instan dengan berbagai ukuran dan cita rasa.
Semakin banyaknya jenis maupun merek mie instan yang beredar di pasar, maka keberhasilan suatu perusahaan tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk saja, tetapi sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan untuk mengidentifikasi mengenai kebutuhan dan keinginan konsumen yang heterogen, sehingga dapat diketahui dengan jelas kebutuhan dan keinginan konsumen tersebut sesuai dengan karakteristik dari masing-masing segmen.
PT. Indofood Sukses Makmur bergerak di bidang usaha industri pengolahan makanan yang hampir seluruh produknya menguasai pasar di Indonesia. Produk yang dihasilkan termasuk miee instant (Indomie, Sarimi, Supermi, Cup Noodles, Pop Mie, Intermie, Sakura). Indofood merupakan produsen mie instant terbesar dengan kapasitas produksi 13 milyar bungkus per tahun. Selain itu Indofood juga mempunyai jaringan distribusi terbesar di Indonesia.
Berdasarkan data PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. (2004-2006), perkembangan produksi mie instan di Indonesia memperlihatkan suatu peningkatan yang positif, walaupun pada tahun 2006 sempat mengalami suatu penurunan produksi. Secara kuantitas, produksi mie instant dari tahun ke tahun mengalami kenaikan dengan tren yang positif. Hal ini menunjukkan suatu prospek yang cukup baik bagi industri mie instan ini pada masa yang akan datang.

Tabel 2 Perkembangan Produksi Mie Instan, Tahun 2004-2006
Tahun Produksi (Ton) Bungkus (Juta) Perubahan (%)
2004
2005
2006
650.109,00
738.320,00
817.149,70 9.287,30
10.547,4
11.673,60 -
13,60
10,6
Sumber : PT. Indofood Sukses Makmur Tbk.
Mie instant merupakan salah satu makanan yang sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Mie instant sering dikonsumsi sebagai makanan alternatif pengganti makanan pokok. Sejalan dengan perkembangan produksi mie instan produksi tepung terigu juga mengalami peningkatan. Hal ini karena bahan baku dasar mie instan adalah tepung terigu. Peningkatan produksi tepung terigu rata-rata tiap tahunnya meningkat dengan laju 2,4 %, seperti yang diperlihatkan pada tabel 3 berikut ini
Tabel 3 Perkembangan Produksi Tepung Terigu, Tahun 2004-2006
Tahun Produksi (Ton) Perubahan (%)
2004
2005
2006 2.914.513
2.399.331
2.585.486 -
7,7
10,5
Rata-rata - 2,8
Sumber : PT. Indofood Sukses Makmur Tbk.
PT. Indofood Sukses Makmur menjadikan mutu dan kepuasan pelanggan sebagai basis bagi perencanaan yang dilakukan oleh perusahaan. Oleh karena itu keinginan dan kebutuhan konsumen harus diperhatikan oleh produsen karena kebutuhan ini akan senantiasa berubah. Perkembangan produk mie instan yang sudah dianggap sebagai makanan cepat saji dan bahkan sebagai makanan pokok, menyebabkan tingkat persaingan pada industri mie instan ini semakin tinggi.

Tingkat persaingan yang tinggi ini dapat menyebabkan pergeseran loyalitas konsumen miee instan produk indofood kepada mie instan produk yang lain. Kondisi ini mendorong perusahaan untuk senantiasa melakukan riset pemasaran yang dilakukan terhadap konsumen, sehingga dapat diketahui kebutuhan dan keinginan konsumen akan suatu produk mie. Tingginya pangsa pasar mie instant mengharuskan perusahaan-perusahaan yang ada untuk berhati-hati, sehingga perusahaan dituntut harus selalu mengevaluasi dan mematangkan strategi pemasaran yang dijalankannya.

Perusahaan ingin mengetahui bagaimana proses keputusan pembelian mie instan, agar menghasilkan analisis pemasaran yang cermat sehingga perusahaan tidak dirugikan karena terjadinya kekeliruan dalam melakukan kegiatan pemasaran. Oleh karena itu, perlu diketahui respon konsumen terhadap produk miee instan tersebut. Untuk dapat menentukan respon konsumen, terlebih dahulu perlu diidentifikasi faktor-faktor dalam proses keputusan. Mengetahui faktor-faktor tersebut akan memudahkan perusahaan dalam mengambil langkah dalam kegiatan pemasaran yang akan dilakukan sehingga dapat diketahui tingkat kepuasan dari konsumen mie instan terhadap kegiatan pemasaran yang telah dilakukan perusahaan.

Oleh karena itu saya merasa tertarik untuk mengetahui respon konsumen saat ini terhadap mie instan produk indofood. Konsumen yang dipilih adalah konsumen yang membeli mie instan di Pasar atas Cimahi. Lokasi ini dipilih karena lokasinya yang berdekatan dengan perusahaan Indofood. Kedekatan jarak ini membuat indofood tidak pernah melakukan analisis terhadap respon konsumen di lokasi ini, karena menganggap masyarakat atau konsumen di sekitar pabrik Indofood telah memiliki respon yang baik terhadap produk mie instan mereka. Pasar Atas ini merupakan salah satu pasar besar yang ada di kota Cimahi selain Pasar Antri. Perbedaan dari kedua pasar ini adalah komoditi yang dijualnya. Pasar Antri lebih fokus pada penjualan komoditi sandang, sedangkan Pasar Atas lebih fokus menjual komoditi Pangan. Hal inilah yang mendorong saya untuk melakukan penelitian mengenai respon konsumen terhadap mie instan produk Indofood di Pasar Atas Cimahi.

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian diatas, permasalahan yang timbul akan dianalisis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi respon konsumen terhadap produk mie instan
2. Bagaimana respon konsumen terhadap produk mie instan Indofood di Pasar Atas Cimahi.