Tampilkan postingan dengan label Perikanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perikanan. Tampilkan semua postingan

Pengaruh Pemberian Berbagai Kadar Karbohidrat Dan Lemak Pakan Ber-Vitomolt Terhadap Efisiensi Pakan Dan Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla Sp.) (IKN-13)

Kepiting bakau (Scylla sp)merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Menurut Karim (2005) permintaan konsumen akan kepiting terus meningkat baik di pasaran dalam negeri maupun di luar negeri, menjadikan organisme tersebut sebagai salah satu komoditas andalan untuk ekspor non migas mendampingi udang windu.
Untuk memenuhi permintaan pasar yang cukup tinggi perlu dilakukan peningkatan produksi kepiting bakau baik jumlah maupun kualitasnya. Salah satu perkembangan teknologi dalam budidaya perikanan untuk meningkatkan produksi  kepiting bakau adalah produksi kepiting lunak atau soft shell. Menurut Fujaya (2007) harga jual kepiting lunak dapat mencapai dua kali lipat disbanding kepiting berkulit keras.
Pada mulanya produksi soft shell dilakukan dengan cara mutilasi, namun dianggap kurang efektif. Selain tingkat mortalitas tinggi, juga menyebabkan peningkatan bobot kepiting lambat. Oleh karena itu, Fujaya dkk.(2007) menggunakan ekstrak bayam (Amaranthus tricolor) sebagai stimulan molting. Ekstrak bayam tersebut dikenal dengan sebutan vitomolt yang mengandung fitoekdisteroid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vitomoltefektif mempercepat dan menyerentakkan molting, tidak menyebabkan kematian, pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan kontrol. Namun, aplikasi vitomoltyang diberikan dengan cara penyuntikan kurang efisien dilakukan dalam skala besar. Upaya yang dapat dilakukan adalah menggunakan pakan buatan sebagai media aplikasi vitomolt.

Pengkajian persentasi nilai nutrisi pakan terhadap pemanfaatan vitomol, sangatlah penting mengingat bahwa kebutuhan dan fungsi-fungsi akan nutrisi pakan akan mempengaruhi laju pertumbuhan kepiting bakau. Menurut Susanti (2009), pakan buatan dalam bentuk moist dengan kadar air 66,65% dengan komposisi nutrien sebagai berikut  protein 50,91%, lemak 5,84%, serat 8,24%, dan BETN 25,76% dalam berat kering, dapat mempercepat pertumbuhan dan molting dengan dosis vitomolt 933 ng/g pakan. Selanjutnya, Busri (2010) membuktikan bahwa penggunaan vitomolt dalam pakan dengan kadar protein 30.62 %, BETN 41.72 %, dan lemak 6.31 % mampu mempercepat molting dan meningkatkan pertumbuhan kepiting bakau.
Terkait hal tersebut di atas, Anonim (2010) dalam www.scribd.com (2010) menerangkan bahwa crustesea memerlukan karbohidrat dalam jumlah yang banyak, karena selain diperlukan sebagai pembakaran dalam proses metabolisme juga diperlukan dalam sintesis khitin dalam kulit keras. Selanjutnya, menurut Anonim (2010) dalam id.wikipedia.org(2010) menerangkan bahwa lemak yang merupakan salah satu nutrisi pakan memiliki fungsi dasar, yaitu menopang fungsi senyawa organik sebagai penghantar sinyal, seperti pada prostaglandin dan hormon steroid dan kelenjar empedu. Ditambahkan oleh (Koolman dan Röhm, 1995) bahwa lemak dalam bahan makanan adalah pembawa energi yang penting. Pada pemberian pakan yang benar, lemak dalam bahan makanan dapat memberikan sekitar 30 – 35% energi tambahan. Menurut Serang (2006) pakan yang mengandung karbohidrat dan lemak yang tepat dapat mengurangi penggunaan protein sebagai sumber energi yang dikenal dengan protein sparing effect. Terjadinya protein sparing effect, karbohidrat dan lemak dapat menyediakan sumber energi untuk pemeliharaan metabolisme, sehingga energi yang berasal dari protein dapat digunakan tubuh untuk pertumbuhan dan bukan digunakan untuk sumber energi.
Mengingat hal tersebut atas maka perlu adanya pengkajian tentang kadar karbohidrat dan lemak pada pakan bervitomolt terhadap efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan kepiting bakau.

Pengaruh Pemberian Berbagai Kombinasi Kadar Karbohidrat Pakan Dan Kromium (Cr+3) Terhadap Deposit Glikogen Hepatopankreas Dan Otot Gelondongan Udang Windu (Penaeus Monodon) (IKN-12)

Udang windu merupakan salah satu komoditas sub sektor perikanan yang diharapkan dapat meningkatkan devisa negara. Permintaan pasar meningkat dengan didukung sumberdaya alam yang cukup besar memberikan peluang yang sangat besar untuk pengembangan budidayanya. Sebagai rantai awal di dalam budidaya udang windu adalah ketersediaan benih yang sering kali merupakan faktor pembatas. Oleh sebab itu, terbatasnya benih hasil tangkapan dari alam mendorong munculnya berbagai panti pembenihan, baik skala besar (hatchery) maupun skala kecil (back yard).
Budidaya udang windu telah mengalami peningkatan. Akan tetapi, beberapa tahun terakhir ini banyak petani tambak yang mengalami penurunan produksi usaha budidayanya. Salah satu penyebab penurunan prduksi tersebut adalah menurunnya sistem kekebalan tubuh udang yang menyebabkan timbulnya penyakit yang berujung pada kematian. Hal ini banyak terjadi pada stadia pascalarva udang windu. Menurunnya kualitas lingkungan budidaya dan ketersediaan nutrisi pakan yang kurang merupakan faktor penyebab sehingga udang saat ini sering terserang penyakit yang dapat menyebabkan kematian massal (Siswanto, 2008).
Upaya pemenuhan permintaan udang yang terus meningkat mendorong petani membudidayakan udang windu secara intensif. Intensifikasi budidaya adalah kegiatan dimana budidaya sangat bergantung pada suplay pakan buatan dan memerlukan pemberian pakan yang intensif. Di sisi lain, kendala yang dihadapi untuk pemenuhan kebutuhan pakan adalah tingginya harga pakan. Menurut Haliman dan Dian (2005) kebutuhan pakan buatan pada budidaya udang berkisar dari 60-70% dari total biaya produksi.

Permasalahan harga pakan yang relatif mahal disebabkan oleh tingginya kandungan protein dalam pakan. Protein merupakan zat terpenting dari semua zat gizi yang diperlukan ikan karena merupakan zat penyusun dari sumber energi utama bagi ikan (NRC, 1997). Pada ikan protein lebih efektif digunakan sebagai sumber energi daripada karbohidrat (Furuichi, 1988). Hal ini disebabkan oleh rendahnya aktivitas enzim amilase dalam saluran pencenaan ikan dibandingkan dengan hewan terrestrial dan manusia. Oleh sebab itu, perlu dilakukan berbagai upaya agar penggunaan protein sebagai sumber energi dapat dikurangi dan pemanfaatan karbohidrat sebagai sumber energi dapat ditingkatkan. Protein diharapkan digunakan untuk pertumbuhan dan pergantian jaringan yang rusak, bukan sebagai sumber energi. Peningkatan penggunaan karbohidrat oleh udang diharapkan dapat meningkatkan kadar karbohidrat dan mengurangi kadar protein dalam komposisi pakan buatan.
Salah satu alternatif yang dapat dikaji dan dikembangkan melalui percobaan adalah dengan suplementasi kromium organik dalam pakan. Penelitian mengenai peran kromium pada beberapa spesies ikan seperti tilapia, gurame, betok, telah dilaporkan dengan menggunakan kromium organik, seperti CrCl3, CrCl3 6H2O, atau Cr2O3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kromium organik efektif meningkatkan pemanfaatan karbohidrat pakan (Shiau dan Chen, 1993; Shiau dan Lin, 1993; Shiau dan Liang, 1995; Shiau, 2002; Subandiono dkk.,2004; Akbar, 2009). Kromium trivalent (Cr+³) merupakan unsur mineral yang dibutuhkan manusia dan hewan. Unsur mineral tersebut berfungsi untuk mengaktifkan kerja insulin dan menstabilkan protein dan asam nukleat. Kromium trivalent memiliki tipe non toksik dan bersifat antioksidant (Anderson, 1997; NRC, 1997).
 Suplementasi kromium berhubungan dengan pemasukan (influx) glukosa hasil hidrolisis enzimatik karbohidrat pakan ke dalam darah dan selanjutnya masuk ke dalam sel. Peningkatan pemasukan glukosa ke dalam sel diharapkan dapat meningkatkan penggunaan karbohidrat sebagai sumber energi. Hal ini dapat diindikasikan oleh adanya penyimpanan glikogen di hepatopankreas dan otot udang windu. Di dalam otot, glikogen merupakan simpanan energi utama yang mampu membentuk hampir 2% dari total massa otot. Glikogen yang terdapat di dalam otot hanya dapat digunakan untuk keperluan energi di dalam otot tersebut dan tidak dapat dikembalikan ke dalam aliran darah dalam bentuk glukosa apabila terdapat bagian tubuh lain yang membutuhkannya. Berbeda dengan glikogen hati dapat dikeluarkan apabila terdapat bagian tubuh lain yang membutuhkan.
Penambahan kromium dalam pakan menyebabkan glukosa dapat segera dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk memenuhi kebutuhan energi metabolisme. Sejauh mana pengaruh suplementasi kromium dalam pakan udang windu belum pernah dilakukan. Sehubungan dengan hal tersebut maka kami melakukan penelitian pengaruh pemberian berbagai kadar karbohidrat pakan dengan suplementasi kromium (Cr+3) terhadap deposit glikogen hepatopankreas dan otot gelondongan udang windu (pennaeus monodon).

Pengaruh Tingkat Subtitusi Tepung Ikan Dengan Tepung Maggot Terhadap Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup Ikan Bandeng (Chanos Chanos Forsskal) (IKN-11)

Ikan bandeng (Chanos chanos Forsskal) termasuk komoditas unggulan di Sulawesi Selatan. Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sulawesi Selatan menargetkan peningkatan produksi ikan bandeng sekitar 71.147 ton pada 2013 dari produksi saat ini rata–rata 55.000 ton per tahun. Permintaan ikan bandeng dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan, baik untuk komsumsi lokal, ikan umpan bagi industri perikanan tuna cakalang, maupun untuk pasar ekspor. Prospek ekspor ikan bandeng Sulawesi Selatan terbuka lebar dengan tujuan ekspor ke Rusia, Singapura dan Timur Tengah yaitu sekitar 600 ton perbulan. Akan tetapi, peluang tersebut belum dapat terpenuhi karena terbatasnya produksi dan diikuti tingginya komsumsi lokal. Ikan bandeng sebagai komoditas ekspor harus mempunyai standar tertentu, yaitu ukuran sekitar 400 g/ekor, sisik bersih dan mengkilat, tidak berbau lumpur dan dengan kandungan asam lemak omega-3 yang tinggi akan dapat di penuhi dari hasil budidaya bandeng secara intensif dalam keramba jaring apung di laut (Anonimusa, 2010).
Dalam kegiatan budidaya secara intensif, pakan mempunyai peranan  penting dalam peningkatan produksi, yang mana biaya untuk pembelian pakan memberi kontribusi sekitar 60–80% dari total biaya produksi (Priyadi dkk., 2008). Khusus di Indonesia, sebagian besar bahan baku pakan berasal dari impor, yaitu sekitar 70–80% (Hadadi dkk., 2007). Harga bahan baku pakan akan berpengaruh terhadap harga pakan yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap biaya produksi.

Tepung ikan merupakan bahan baku utama sumber protein dalam pakan ikan. Saat ini produksi tepung ikan lokal baru dapat memenuhi 60–70 % dari kebutuhan dengan kualitas dan kuantitas yang berfluktuaktif. Oleh sebab itu, diperlukan penelitian yang mendalam terhadap berbagai bahan baku alternatif pengganti tepung ikan, yakni salah satunya, tepung maggot atau tepung serangga bunga (Hermetia illucens). Bahan ini dapat di produksi secara massal, bahan ini juga memenuhi kandungan nutrisi dan tidak menjadikan harga pakan tinggi yaitu hanya Rp. 1.500,- per kg dibanding tepung ikan impor Rp. 15.000,- per kg dan lokal harganya sekitar Rp. 12.000,- per kg (Hadadi dkk., 2007). Harga pakan saat ini mencapai Rp. 7000 sampai Rp. 7500 per kg, sementara harga pakan berbahan baku maggot dengan kandungan protein sekitar 25-30% hanya Rp. 3500 per kg (Anonimusb, 2010).
Penelitian pemanfaatan tepung magot sebagai sumber protein sebagai pengganti tepung ikan telah di lakukan oleh beberapa peneliti. Hasil pelelitian Retnosari (2007) pada benih ikan nila menunjukkan bahwa subtitusi tepung ikan oleh tepung magot sebesar 55% (kadar protein 30,45%), 65% (kadar protein 30,22%), 85% (kadar protein 27,64%) dan 95% (kadar protein 26,35%) menghasilkan pertumbuhan benih ikan nila yang tidak berbeda. Hal ini diduga karena kadar protein yang dihasilkan masih dalam rentang layak kebutuhan benih ikan nila.
Informasi tentang kemungkinan dapat dimanfaatkannya tepung maggot sebagai pengganti sumber protein asal tepung ikan pada budidaya ikan bandeng dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan sintasan sampai saat ini belum ada, oleh karena itu penelitian ini perlu dilakukan.

Kualitas Air | Laporan Praktikum

Kualitas suatu ekosistem dapat dilihat dari nilai indeks keragaman jenis, indeks dominasi dan nilai keragaman jenis (kesamaan jenis). Pada suatu ekosistem perairan akan terjadi hubungan antara organisme yang satu dengan intra dan inter spesifiknya.  

Perairan umum adalah bahagian permukaan bumi yang secara permanen atau berkala digenangi oleh air, baik air tawar, payau maupun air laut, mulai dari garis pasang surut terendah kearah daratan dan badan air tersebut terbentuk secara alami atau pun buatan. Yang termasuk kedalam perairan umum adalah sungai, danau, waduk, rawa, goba, genangan air lainnya (telaga, lebak embung, kolong-kolong dan legokan). 
         
Air adalah zat cair yang tidak mempunyai rasa, warna dan bau, yang terdiri dari hidrogen dan oksigen dengan rumus kimiawi H2O. Karena air merupakan suatu larutan yang hampir-hampir bersifat universal, maka zat-zat yang paling alamiah maupun buatan manusia hingga tingkat tertentu terlarut di dalamnya. Dengan demikian, air di dalam mengandung zat-zat terlarut. Zat-zat ini sering disebut pencemar yang terdapat dalam air (Linsley, 1991).

Waduk atau danau buatan adalah genangan air yang terbentuk karena pembendungan aliran sungai bukan alami. Pembendungan ini dapat merubah ekosistem perairan mengalir (lotik) menjadi ekosistem perairan tergenang (lentik) yang akan mempengaruhi kehidupan biota perairan sungai asal (Hadiwigeno, 1990).  
Waduk dapat diartikan sebagai perairan buatan yang mempunyai karakteristik antara perairan sungai dan danau setiap waduk mempunyai morfologi yang unik, oleh karena itu waduk dapat digeneralisasikan antara satu waduk dengan waduk yang lainnya. Beberapa waduk dapat dibangun di dataran tinggi maupun dataran rendah, atau di sepanjang sebuah aliran sungai.
  
Waduk–waduk yang dibangun di dataran tinggi atau hulu sungai akan memiliki bentuk menjari, relatif sempit dan bertebing curam serta dalam, sebaliknya waduk yang dibangun di dataran rendah (Jangkaru, 2000). Atau hilir sungai berbentuk bulat, relatif luas dengan badan air relatif dangkal.

Makalah analisis parameter bioindikator air

PENDAHULUAN    
 Makalah analisis parameter bioindikator air --Air merupakan bagian yang esensial dari protoplasma, dan dapat pula dikatakan bahwa semua jenis kehidupan bersifat akuatik. Dalam prakteknya, suatu habitat akuatik apabila mediumnya baik eksternal maupun internalnya adalah air
          Kualitas suatu perairan sangat berpengaruh terhadap kemampuan produktifitas fitoplankton, penurunan kualitas perairan akan mnyebabkan penurunan kelimpahan fitoplankton yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kelayakan suatu perairan untuk kegiatan perikanan.
          Masing-masing habitat mempunyai ciri-ciri tersendiri dan adanya perubahan lingkungan dimana habitat itu tinggal, maka akan menyebabkan jumlah jenis dari kelimpahan organisme yang hidup di dalamnya berbeda-beda. Walaupun mempunyai lingkungan hidup yang berbeda-beda, tetapi pada masing-masing habitat tersebut terdapat interaksi antara factor biotik dan abiotik.
          Dilakukannya pengukuran kualitas air untuk mengetahui kelayakan dari air tersebut. Dalam praktikum ini, mengukuran kualitas air dilakukan diwaduk FAPERIKA UR. Pengukuran kualitas air ini emnggunakan metode purposive sampling, yaitu pengambilan sampel dilakukan sengan memperhatikan berbagai pertimbangan kondisi serta keadaan daerah pengamatan.  Ada sampel yang langsung diteliti ditempat pengambilan sampel dan ada juga sampel yang diambil dari tempat pengambilan sampel dan kemudian dibawa ke laboratorium untuk diteliti.

1.2        Tujuan dan Manfaat
          Tujuan dari diadakannya praktikum ini adalah untuk mengetahui kualitas air disuatu perairan. Dalam praktikum ini, pengukuran kualitas air dilakukan diwaduk FAPERIKA UR. Dalam praktikum ini, yang dilakukan adalah mengukuran suhu, kecerahan, kekeruhan, kedalaman, karbondioksida bebes, oksigen terlarut, dan derajat keasaman(pH).
          Manfaat yang diperoleh dari praktikum ini adalah, kita dapat mengetahui seberapa layak air yang ada diwaduk FAPERIKA UR untuk digunakan. Kita juga dapat memahapi cara-cara yang dilakukan untuk mengukur suatu kualitas air disuatu perairan, sehingga juga dapat dilakukan pada area yang lainnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA

          Kualitas air adalah istilah yang menggambarkan kesesuaian atau kecocokan air untuk penggunaan tertentu, misalnya : air minum, perikanan, pengairan/irigasi, industri, rekreasi dan sebagainya. Peduli kualitas air adalah mengetahui kondisi air untuk menjamin keamanan dan kelestarian dalam penggunaannya. Kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengujian tertentu terhadap air tersebut. Pengujian yang biasa dilakukan adalah uji kimia, fisika, biologi, atau uji kenampakan (bau dan warna) (ICRF, 2010)
          Kualitas air yaitu sifat air dan kandungan makhluk hidup, zat energi atau komponen lain di dalam air. Kualitas air dinyatakan dengan beberapa parameter yaitu fisika (suhu, kekruhan, padatan suspensi dan sebagainya), parameter kimia (pH, oksigen terlarut, BOD, dan sebagainya), dan parameter biologi (keberadaan plankton, bakteri, dan sebagainya) (Effendi, 2003)
          Lima syarat utama kualitas air bagi kehidupan ikan adalah (O-fish, 2009) :
1.    Rendah kadar amonia dan nitrit
2.    Bersih secara kimiawi
3.    Memiliki pH, kesadahan, dan temperatur yang sesuai
4.    Rendah kadar cemaran organik, dan
5.    Stabil
          Pengukuran kualitas air dapat dilakukan dengan dua cara yaitu, yang pertamana adalah pengukuran  kualitas air dengan parameter fisika dan kimia, sedangkan yang kedua adalah pengukuran dengan menggunakan parameter biologi. (Sihotang, 2006)
          Suhu air dipengaruhi komposisi substrat, kecerahan, kekeruhan, air tanah, dan pertukaran air, panas udara akibat respirasi dan naungan dari kondisi perairan tersebut.
          Kecerahan suatu perairan menentukan sejauh mana cahaya matahari dapat menembus suatu perairan dan sampai kedalaman berapa proses fotosintesis dapat berlangsung secara sempurna. Kecerahan yang mendukung adalah pinggan secchi disc mencapai 20-30cm dari permukaan. (Chakroff dalam Syukur, 2002)
          Novotny dan Olem, 1994 (dalam Effendi, 2003) menyatakan bahwa sebagian besar biota akuatik sensitive terhadap perubahan H dan menyukai nilai pH sekitar 7-8,5. Nilai pH sangat mempengruhi proses biokimia perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berahir jika pH rendah. Sedangkan menurut Haslam, 1995 (dalam Effendi, 2003) menambahkan bahwa pada pH ˂4, sebagian besar tumbuhan air mati karena tidak dapat mentoleir terhadap pH rendah.
          Kelarutan oksigen dalam air tergantung dai suhu air. Kelarutan oksigen dalam air akan berkurang dari 14,74 mg/L pada suhu 0ͦC menjadi 7,03mg/L pada suhu 35ͦC. Dengan kenaikan suhu air terjadi pula penurunan kelarutan oksigen yang disertai dengan naiknya kecepatan pernafasan organisme perairan, sehingga sering menyebabkan terjadinya kenaikan kebutuhan oksigen yang disertai dengan turunnya kelarutan gas-gas lain didalam air.
          Peningkatan suhu sebesar 1ͦC meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10. Dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan organik dapat mengurangi kadaroksigen terlarut hingga mencapai no. (Brown dalam Effendi, 2003).
          Kasry (1995) mengemukakan bahwa tingginya tingkat co2 bebas dalam air dihasilkan dari proses perombakan bahan organik dan mikroba. Kadar karbondioksida bebas yang dikehendaki tidak lebih dari 12 mg/L dan kandungan terendah adalah 2 mg/L. Kandungan CO2 bebas diperairan tidak lebih dari 25mg/L dengan catatan kadar O2 terlarut cukup tinggi.
          Pola temperatur ekosistem air dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intensitas cahaya matahari, pertukaran panas antara air dengan udara sekelilingnya, ketinggian geografis dan juga faktor kanopi(penutupan oleh vegetasi) dari pepohonan yang tumbuh di tepi. Disamping itu, pola temperatur peraitran dapat di pengaruhi oleh faktor-faktor antrophogen seperti limbah. (Barus, 2003)
          Suhu tinggi tidak selaluberakibat mematikan tetapi dapt menyebabkan gangguan status kesehatan untuk jangka panjang. Pada suhu rendah, akibat yang ditimbulkan antara lain ikan menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Pada dasarnya, suhu rendah memungkinkan air mengandung O2 lebih tinggi, tetapi suhu rendah menyebabkan stres pernafasan pada ikan berupa penurunan laju pernafasan dan denyut jantung sehingga dapat berlanjut dengan pingsannya ika-ikan akibat kurangnya O2. (Irianto, 2005)
          pH adalah suatu ukuran keasaman dan kadar alkali dari sebuah contoh cairan. Kadar pH dinilai dengan ukuran antara 0-14. Sebagian besar persdiaan air memiliki pH antara 7-8,2. Namun beberapa air memiliki pH dibawah 6,5 atau diatas 9,5.(Iclean, 2007)
          Perubahan pH berkaitan dengan kandungan oksigen dan CO2 dalam air. Pada siang hari jika O2 naik akibat fotosintesisa fitiplankton, maka pH juga naik. Kestabilan pH perlu dipertahankan karena pH dapat mempengaruhi pertumbuhan organisme air. (Subarijanti, 2005)
          Sumber utama oksigen terlarut dalam air adalah penyerapan oksigen dari udara melalui kontak antara permukaan air dengan udara, dan dari proses fotosintesis. Selanjutnya alir kehilangan oksigen melalui pelepasan dari permukaan air ke atmosfer dan melalui kegiatan respirasi dari organisme. (Barus, 2003)
          Sumber karbon utama dibumi adalah atmosfer dan perairan terutama laut. Laut mengandung CO2 lima puluh kali banyak dari karbon di atmosfer. Perpindahan karbon dari atmosfer ke laut terjadi melaui proses difusi. (Effendi, 2003).